Bo-Kaap, Nuansa Warna-warni Melayu di Afrika Selatan

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Bo-Kapp | commons.wikimedia.org
Ketika Belanda masih menguasai Cape Town, Afrika Selatan, pada abad ke-16 dan ke-17, mereka mengimpor banyak budak dari negeri koloni lainnya, yaitu dari Malaysia, Indonesia, India, dan Sri Lanka.
Budak-budak itu menetap di sana. Kemudian, setelah Inggris merebut Cape Town dari Belanda pada tahun 1795, para budak memperoleh kebebasan beragama, perdagangan budak diakhiri, dan perbudakan pula dihapuskan. Lantas, para budak membuat komunitasnya sendiri.
Kurang lebih, begitulah kisah nyata tentang para leluhur di Bo-Kaap. Sebuah wilayah yang terletak di lereng Signal Hill dan merupakan salah satu daerah pemukiman tertua serta paling menarik di Cape Town.
Rumah-rumah di sana terbiasa di cat dengan warna-warni cerah, terutama tatkala menyambut Hari Raya Idul Fitri. Komunitas Muslim yang sebagian besarnya merupakan keturunan Asia Tenggara dan Asia Selatan ini, telah membuat Bo-Kaap dijuluki sebagai 'Tanjung Melayu'.
Perkawinan silang antara keturunan Asia Tenggara dengan Asia Selatan telah berkontribusi dalam menghasilkan khazanah budaya di Boo-Kaap (dalam musik, tarian, serta makanan). Bahkan, beberapa hidangan tradisional yang sekarang menjadi hidangan pokok di Afrika Selatan, seperti tomato bredie, bobotie, sosaties dan koeksisters, pada awalnya bermula dari Bo-kaap.
Perkawinan silang antara keturunan Asia Tenggara dengan Asia Selatan telah berkontribusi dalam menghasilkan khazanah budaya di Boo-Kaap (dalam musik, tarian, serta makanan).
Namun, tidak sedikit pula keturunan Asia yang menikah dengan pribumi Afrika. Satu cerita paling unik tentang mengapa banyak wanita Afrika yang sudi menikah dengan para pria mantan budak yang beragama Islam, ialah karena mereka tidak minum alkohol. Bagi para wanita ini, lelaki yang tidak minum alkohol berarti suami yang baik.
Sayangnya, pada saat ini kesolidan komunitas keturunan Asia dan Muslim di Bo-Kaap tengah terancam eksistensinya. Hal tersebut disebabkan gentrifikasi, suatu perubahan sosial dan budaya ketika orang-orang kaya mulai membeli properti perumahan di permukiman yang kurang makmur.
Sumber: Cape Town History | The Guardian
