Konten dari Pengguna

Burrnesha, Para Perempuan Albania yang Disumpah Menjadi Lelaki

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Burrnesha, Para Perempuan Albania yang Disumpah Menjadi Lelaki
zoom-in-whitePerbesar

Di daerah terpencil pegunungan Albania, di bagian utara negara itu, tak ada yang lebih istimewa selain terlahir sebagai laki-laki. Lebih spesial apabila berasal dari keluaga kaya, hak pewaris utama dan kewajiban menjadi kepala keluarga sudah pasti diterima.

Wilayah ini relatif masih belum tersentuh modernitas, sekalipun di bagian perkotaan Albania kemajuan dalam hak-hak perempuan sudah terjadi. Setidaknya, meski jumlahnya terus berkurang seiring perkembangan zaman, masih hidup sekitar 100 wanita yang telah bersumpah diri menjadi lelaki.

Mereka menyebut golongan perempuan itu 'burrnesha', yang telah memilih untuk menjalani kehidupan pria dan tidak diperbolehkan mengekspresikan seksualitas feminimnya. Dalam kondisi sosial yang didominasi sistem patriarki, itu adalah pengorbanan untuk menjadi perawan seumur hidup.

Tradisi burrnesha terlahir dari undang-undang kuno yang disebut qanun dari orang-orang Leke Dukagjini. Telah diwariskan secara lisan di antara klan-klan Albania utara selama lebih dari lima abad.

Mulanya, burrnesha muncul karena kebutuhan sosial tatkala orang tua yang meninggal dalam sebuah keluarga tidak memiliki ahli waris laki-laki. Anak perempuan yang belum menikah kemudian dapat mengambil peran sebagai anak laki-laki, setelah mengambil sumpah yang tidak dapat dibatalkan seumur hidup di depan dua belas warga desa atau tetua suku.

Pada masa-masa selanjutnya, motif untuk menjadi burrnesha lebih variatif. Terkadang, seorang perempuan bersumpah demi menghindari perjodohan tanpa perlu mempermalukan keluarga dari calon pengantin lelakinya. Kerap juga, perempuan menjadi burrnesha atas dasar keinginan mereka untuk meraih kemerdekaan agar terlepas dari kekangan sistem.

Tak pernah mudah memilih jalan sebagai burrnesha, dengan risiko kesucian biologis yang mesti dijaga sampai mati. Bagaimanapun, terlahir sebagai perempuan di daerah terpencil pegunungan Albania Utara juga bukan takdir menyenangkan. Mereka hanya memiliki sedikit hak, tidak dapat memilih saat pemilu, tak boleh melakoni profesi tertentu, tidak bisa membeli tanah, atau dilarang memasuki banyak tempat publik.

Konotasi burrnesha juga tidak dapat disamakan dengan transeksual atau lesbian. Karena secara menyeluruh, burrnesha telah menanggalkan kepentingan seksualitas mereka. Pemberontakan terhadap ketimpangan sosial ialah target mereka, bukan dorongan biologis semata.

Sumber: nytimes.com | theguardian.com