Konten dari Pengguna

Cerita Keringnya Danau Sumber Kesengsaraan

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Danau Fucine yang telah kering | Foto oleh Ercole Di Berardino dari Flickr
zoom-in-whitePerbesar
Danau Fucine yang telah kering | Foto oleh Ercole Di Berardino dari Flickr

Bekas pengeringan Danau Fucine terletak di antara bukit-bukit rendah dan lembah yang luas di sekitar Abruzzo barat, Italia tengah, 80 kilometer dari arah timur Roma. Wilayah tersebut, pada saat ini, termasuk dataran paling subur di Italia. Banyak penduduk desa yang bekerja sebagai petani di sana, dan sayuran yang mereka tanam selalu menghasilkan kualitas terbaik.

Namun, pada masa lalu, Danau Fucine dikenal sebagai biang masalah yang membawa kesengsaraan. Tidak adanya saluran pengeluaran, secara alami, mengakibatkan air danau sering meluap dan membanjiri desa-desa sekitar. Penduduk desa saat itu sampai mendesak Julius Caesar untuk mengeringkan danau, namun sayangnya Caesar telah terbunuh sebelum merealisasikan hal tersebut.

Satu abad kemudian, tepatnya pada 41 Masehi, Kaisar Claudius mengambil alih rencana tersebut. Ia menggali terowongan sepanjang 6 kilometer melalui bukit di dekat Avezzano untuk mengalirkan air danau ke Sungai Liri. Lebih dari tiga ribu budak Ia pekerjakan. Selama lebih dari satu dekade menggali, mereka meratakan dan menggali terowongan melalui bukit.

Sempat para insinyur kala itu melakukan kesalahan perhitungan, yang menyebabkan air danau masuk terlalu cepat, dan hampir menenggelamkan Claudius dan kelompoknya. Setelah sebelas tahun, terowongan tersebut pun selesai. Itu adalah terowongan terpanjang yang pernah dibangun pada masanya yang difungsikan untuk menyusutkan danau terbesar ketiga di Italia.

Untuk merayakannya, Claudius mengadakan pertarungan besar-besaran di Danau Fucine. Kebanyakan petarungnya adalah para tahanan yang dihukum mati. Pemandangan di danau pun berubah menjadi pembantaian, dengan air yang menjadi semerah darah. Setelah pertempuran, pintu terowongan dibuka, dan air merah di Danau Fucine mengalir keluar. Ukuran danau pun menyusut dari 140 km persegi menjadi di bawah 60 km persegi.

Foto: Pintu Masuk Terowongan | Wikimedia Commons

Setelah jatuhnya kekaisaran Romawi, pemeliharaan terowongan menjadi kurang diperhatikan sehingga menyebabkan banyak penyumbatan. Pada awal abad ke-6, gempa bumi menggeser dasar danau menuju pintu masuk terowongan, sehingga merusak sebagian besar terowongan.

Beberapa kali usaha perbaikan terowongan pun dicoba pada awal abad ke-13 dan ke-15, namun semuanya gagal. Alessandro Torlonia, seorang bangsawan dan bankir Italia pada abad ke-19, lantas mempekerjakan insinyur Jean François Mayor de Montricher untuk mengembalikan terowongan asli dan sedikit memperbesarnya. Pekerjaan tersebut berakhir pada tahun 1870.

Sejak tahun 1873, pengeringan Danau Fucine mulai dilakukan secara bertahap. Dalam lima tahun berikutnya, danau tersebut benar-benar kering, menyisakan lahan subur seluas 140 kilometer. Tanpad adanya danau, para nelayan Fucine lantas membuang jala mereka dan mulai bertani sebagai gantinya.