DC-X, Roket Pertama yang Meluncur dan Mendarat secara Vertikal

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada masa modern seperti saat ini, mungkin kamu lebih mengenal SpaceX dan Blue Origin sebagai perusahaan penerbangan luar angkasa yang mampu merancang sebuah roket yang dapat meluncur dan mendarat secara vertikal.
Jika kamu pikir hanya merekalah perusahaan-perusahaan yang mampu menerapkan teknologi tersebut saat ini, kamu salah besar. Pasalnya, menilik sejarah, ternyata DC-X telah melakukan teknik tersebut sejak lama.
Diproduksi oleh McDonnel Douglas, DC-X atau Delta Clipper Experimental adalah roket satu tahap yang dapat digunakan kembali dan dirancang untuk dioperasikan dengan cara lepas landas dan mendarat secara vertikal. Sebelumnya, cara ini masih dianggap sebagai ranah fiksi ilmiah.
DC-X sendiri terlihat seperti teknologi masa depan yang sangat canggih, dengan berbentuk seperti piramida berwarna putih dengan empat kaki ramping, memiliki tinggi hanya 12 meter, dan ukuran paling kecil di antara roket-roket modern saat ini.
Ukuran DC-X memang kecil, tetapi itu bukan menjadi masalah, karena dari awal roket tersebut memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencapai ketinggian orbit. Tujuan utama dari DC-X untuk membuktikan sebuah konsep baru, yakni sebuah gagasan yang telah dikembangkan oleh insinyur kedirgantaraan, Max Hunter, selama tiga puluh tahun lamanya.
Hunter ingin merancang dan membangun kendaraan antariksa satu tahap ke orbit STTO, tanpa menggunakan bahan bakar sampai penuh. Intinya, Hunter ingin agar roketnya dapat digunakan berulang kali. Hunter bukanlah pencetus pertama. Mantan rekannya yang bernama Philip Bono, seorang insinyur untuk Douglas Aircraft Company, ialah yang pertama mengusulkan konsep tersebut.
Dalam percobaan, roket pertama yang mendekati lepas landas secara vertikal adalah Apollo Lunar Module dua tahap. Roket tersebut mendarat secara vertikal di permukaan bulan, namun itu bukanlah roket yang dapat digunakan kembali. Teknologi roket yang bisa digunakan berulang kali belum ada pada saat itu.
Karena hal tersebutlah, Hunter mencoba untuk menjual idenya kepada Lockheed Martin, sebuah perusahaan produsen pesawat sebelum ia pensiun. Tahun 1989, Hunter bekerja sama dengan penulis fiksi ilmiah, Jerry Pournelle dan pensiunan Letnan Jenderal Daniel O, dan ketiganya mengadakan pertemuan dengan Wakil Presiden Amerika Serikat yang ke-44, Dan Quayle.
Dalam pertemuan tersebut, mereka bertiga dapat meyakinkan Quayle bahwa negara saat itu belum memiliki roket yang dapat diandalkan untuk diluncurkan berulang kali. Proyek ini harus segera dipersiapkan dalam waktu singkat, karena roket yang seperti itu akan menjadi sangat penting bagi persenjataan AS.
Apabila negeri Paman Sam ingin berinvestasi dalam sistem persenjataan berbasis ruang angkasa. Ditambah dengan ketidakpastian Perang Dingin yang selalu membayang-bayangi, maka proyek tersebut dengan cepat disetujui dan didanai oleh Organisasi Inisiatif Pertahanan Strategis Amerika Serikat.
Proyek itu mencatatkan waktu perdana dalam peluncuran roket pertamanya pada tanggal 18 Agustus 1993, dengan roket dapat mencapai ketinggian 46 meter, melayang sebentar, dan masih mempertahankan sikap vertikal, lalu bergerak ke samping sejauh 106 meter. Mesin roket kembali aktif; dan DC-X turun secara perlahan. Lantas mendarat dengan mulus dalam posisi vertikal.
Uji coba penerbangan ini hanya membutuhkan waktu 59 detik dan menjadi pertama kalinya sebuah roket dapat meluncur dan mendarat secara vertikal dalam sejarah teknologi umat manusia. [*]
