Konten dari Pengguna

Desa Indah di Austria yang Berubah Drastis akibat COVID-19

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh Julius Silver dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Julius Silver dari Pixabay

Di Austria, terdapat sebuah desa bernama Hallstatt. Terletak di wilayah Salzkammergut, desa ini dikenal punya keindahan yang begitu luar biasa dan menjadi daya tarik wisata yang memikat banyak pelancong untuk datang.

Hallstat populer sebagai kawasan wisata karena lokasinya yang berada tak jauh dari Pegunungan Alpen. Hallstat bersejarah karena memiliki situs penambangan garam yang berusia sangat tua. Opera sabun yang populer di Korea Selatan, Spring Waltz, juga menampilkan suasana Hallstatt, sehingga desa ini pun terkenal sampai ke Asia.

Suasana Hallstatt sungguh ramai oleh wisatawan yang berlalu-lalang dan menikmati kopi dengan pemandangan pegunungan. Setiap harinya, diperkirakan ada hampir 10 ribu pengunjung yang datang ke Hallstatt.

Berdasarkan laporan, jumlah pengunjung tahunan di Hallstatt mencapai lebih dari 1 juta orang. Orang yang datang pun berasal dari berbagai belahan dunia mulai dari negara tetangga Austria seperti Polandia, Hungaria, dan Jerman, hingga Asia. Selain menikmati pemandangan indah, wisatawan juga bisa melakukan berbagai aktivitas seperti bersepeda gunung, atau memanjat tebing.

Gambar oleh Siggy Nowak dari Pixabay

Namun, pandemi Covid-19 membuat suasana Hallstatt berubah drastis. Dari yang biasanya begitu ramai oleh wisatawan, suasana kini menjadi sangat sepi. Apalagi saat lockdown diberlakukan di Austria, Hallstatt lebih mirip desa hantu yang sunyi.

Drastisnya perubahan suasana yang ada, misalnya, dapat dilihat di sebuah jalan bernama Seestrasse. Biasanya, Steestrasse ramai oleh ribuan wisatawan yang mengambil foto. Tetapi kini jalan tersebut begitu lega tanpa manusia.

Selain itu, penduduk pun Hallstatt memang sedikit, yakni hanya sekitar 800 orang. Sehingga tanpa kedatangan para turis, desa ini menjadi terasa lebih luas dari biasanya.

Gambar oleh Julia Budiman dari Pixabay

"Dunia berhenti berputar, sungguh menakutkan, sunyi, dan kelam. Tidak ada mobil, bus, dan wisatawan. Kami bahkan bisa mendengar angsa sedang berenang." ujar seorang penduduk Hallstatt, Sonja Katharina, dikutip dari BBC International.

Kendati demikian, menghilangnya wisatawan tak dianggap sepenuhnya buruk bagi penduduk setempat. "Positifnya adalah kami jadi punya waktu untuk saling berbicara satu sama lain, tentu sambil menjaga jarak." lanjut Katharina. "Kami tidak perlu terburu-buru dan bisa berpikir tentang apa yang paling penting dalam hidup." pungkasnya.