Konten dari Pengguna

Filosofi Dia de Muertos, Menjaga yang Mati untuk Tetap Hidup dalam Pikiran Kita

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dia de Muertos | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Dia de Muertos | Wikimedia Commons

The Day of the Dead atau Dia de Muertos selalu digelar sebagai perayaan besar. Acara ini menjadi salah satu identitas di Meksiko, yang bermula dari sebuah tradisi kuno yang sering dilakukan oleh orang-orang Aztec. Seiring waktu, Day of the Dead terus berkembang hingga menjadi sesuatu yang spesial pada era modern.

Dahulu, Suku Aztec di Meksiko Tengah sering melakukan upacara untuk menghormati orang-orang yang mati. Mereka menggunakan tengkorak yang ditempatkan di kuil-kuil Aztec, untuk menghormati serta berkomunikasi dengan orang-orang yang telah meninggal. Cara ini secara luar biasa bertahan selama enam abad, sampai akhirnya Kekaisaran Aztec abad ke-16 ditaklukan oleh Spanyol.

Usai ditaklukan, pengurus gereja Katolik memindahkan waktu perayaan, yang tadinya dilakukan setiap tanggal 1 menjadi 2 November. Sebelum dipindahkan, upacara sebenarnya ini tak memiliki sebutan apa pun. Orang-orang Katolik dari Spanyol-lah yang mulai menjulukinya sebagai Dia de Muertos.

Cara merayakan pun menjadi bervariatif, seperti dengan membersihkan kuburan kerabat yang sudah meninggal atau membawa makanan untuk menarik perhatian roh. Dalam upacara juga ada musik serta tarian untuk menyenangkan jiwa-jiwa yang telah tiada.

Dia de Muertos | Wikimedia Commons

Menurut seorang jurnalis dan penulis buku Day of the Death, Mary J. Andrade, seseorang akan benar-benar mati jika dilupakan, tetapi akan terus hidup jika diingat. Inilah alasan mengapa tradisi kuno tersebut masih dijaga, demi melestarikan kehidupan seseorang (bahkan setelah ia wafat).

“Orang benar-benar mati ketika Anda melupakan mereka, dan jika Anda memikirkan mereka, mereka hidup dalam pikiran Anda, mereka hidup di dalam hati Anda,” tutur Andrade.

Rujukan: