Konten dari Pengguna

Flu Spanyol, Pandemi yang Mematikan dan Misterius

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: commons.wikimedia.org
zoom-in-whitePerbesar
Foto: commons.wikimedia.org

Pada musim semi 1918, tepat setelah kengerian Perang Dunia I mulai reda, muncul salah satu jenis influenza paling mematikan dalam sejarah manusia modern. Virus ini menginfeksi 40 persen populasi global selama 18 bulan kemunculannya; dari jumlah tersebut, diperkirakan 20 hingga 50 juta tewas. Jumlah yang lebih banyak ketimbang korban Perang Dunia I.

Derita pandemi ini membentang dari Amerika Serikat dan Eropa, juga ke daerah-daerah terpencil di Greenland dan Kepulauan Pasifik. Para korbannya bukan hanya rakyat jelata yang kekurangan akses terhadap perawatan intensif, orang-orang seperti Presiden Woodrow Wilson pun turut menderita karenanya (terjangkit ketika menegosiasikan Perjanjian Versailles pada awal tahun 1919).

Nama "Flu Spanyol" sebetulnya merupakan ihwal yang sangat patut diperdebatkan. Ketika pandemi mencapai proporsi epik pada musim gugur 1918, sebutan "Flu Spanyol" atau "Wanita Spanyol" mulai terkenal di Amerika Serikat dan Eropa. Banyak yang menduga, penamaan ini karena penyakitnya bermula dari Semenanjung Iberia. Bagaimanapun tak ada yang bisa membuktikannya.

Fakta yang tak boleh dilupakan adalah Spanyol menjadi salah satu dari sedikit negara Eropa yang tetap netral selama Perang Dunia I. Tidak seperti negara-negara Sekutu dan Sentral, di mana sensor berita sangat ketat selama masa perang dan kabar soal flu pun disensor agar tidak mempengaruhi moral bangsa. Media Spanyol justru leluasa melaporkan detail pandemi, dengan berita pertama disebarluaskan di Madrid pada akhir Mei 1918.

Liputan tentang pandemi tersebut pun kian gencar setelah Raja Spanyol, Alfonso XIII, turun dari tahtanya. Karena negara-negara lain sedang mengalami pemadaman media, alhasil, masyarakat global hanya bisa membaca laporan mendalam dari sumber-sumber berita Spanyol. Lantaran kejujuran jurnalisme inilah banyak negara secara alami berasumsi bahwa Spanyol adalah titik nol pandemi. Sedangkan masyarakat Spanyol lebih percaya virus telah menyebar ke mereka dari Prancis, sehingga mereka menyebutnya "Flu Prancis".

Bahkan setelah pandemi berlalu, para ilmuwan masih tidak yakin dari mana sumber virus mematikan itu. Prancis, Cina, dan Inggris, telah diusulkan sebagai tempat potensial kelahiran virus. Amerika Serikat juga sempat diklaim sebagai titik permulaannya, di mana kasus pertama penyakit ini muncul di sebuah pangkalan militer di Kansas pada 11 Maret 1918.

Pada Januari 2014 muncul sebuah artikel yang ditulis oleh sejarawan asal Kanada, Mark Humphries, yang menyatakan bahwa kemungkinan besar "Flu Spanyol" berasal dari China. Humphries, yang juga menulis buku The Last Plague: Spanish Influenza and the Politics of Public Health in Canada, juga mengatakan bahwa pandemi tersebut sebetulnya telah dimulai sejak tahun 1917 di China; kemudian meledak penyebarannya ke seluruh penjuru dunia dalam waktu sangat singkat.

Bagaimanapun, Humphries mengakui pernyataan-pernyatannya itu masih belum mutlak terbukti. "Hanya hasil tes sampel DNA dari (korban) awal pandemi yang betul-betul bisa memastikan atau membantah teori itu," ungkapnya.

Sumber: history.com | bbc.co.uk | nationalgeographic.com