Konten dari Pengguna

Gereja Gua di Kota Sampah

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Gereja St Simon atau dikenal gereja gua di Zabbaleen, Mesir.
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Gereja St Simon atau dikenal gereja gua di Zabbaleen, Mesir.

Gereja Santo Simon atau juga dikenal sebagai Gereja Gua, terletak di gunung Mokattam di tenggara Kairo, Mesir, di daerah yang dikenal sebagai 'kota sampah' karena populasi besar pemulung sampah atau Zabbaleen tinggal di sana. Zabbaleen adalah keturunan petani yang mulai bermigrasi dari Mesir Huluke Kairo pada 1940-an.

Hasil panen yang buruk dan dinaungi kemiskinan membuat mereka kabur dari nasib itu. Mereka datang ke kota untuk mencari pekerjaan dan membangun pemukiman sementara di sekitar kota.

Awalnya, mereka berpegang pada tradisi memelihara babi, kambing, ayam, dan hewan lainnya, tetapi akhirnya mereka beralih menjadi pemulung dan pengolah limbah yang mereka rasa lebih menguntungkan. Zabbaleen akan memilah-milah sampah rumah tangga, menyimpannya dan menjual barang-barang yang dinilai masih berharga, sementara sampah organik akan diolah kembali menjadi pakan ternak mereka.

Sebenarnya, hal tersebut berjalan dengan sangat baik, di mana gelombang migran datang dari Mesir Hulu kemudian menetap dan bekerja di desa-desa khusus pengepul sampah yang baru didirikan di Kairo. Selama bertahun-tahun, pemukiman sementara Zabbaleen dipindahkan untuk menghindari peraturan ketat kota. Sebagian besar Zabbaleen pun akhirnya menetap di bawah tebing Mokattam atau tambang Moquattam di tepi timur kota. Komunitas itu terus bertumbuh dari awalnya sekitar 8.000 pada awal 1980-an menjadi 30.000 lebih penduduk Zabbaleen. Jumlah itu membuat mereka menjadi komunitas pemulung terbesar di Kairo.

Lalu apa hubungan Zabbaleen dengan gereja Santo Simon? Mesir merupakan negara mayoritas muslim, tetapi 90 persen Zabbaleen merupakan penganut Kristen Koptik. Komunitas Kristen jarang ditemukan di Mesir, sehingga Zabbaleen lebih suka tinggal di Mokattam dalam komunitas agama mereka dan kebiasaan itu membuat mereka tinggal di dekat gereja Santo Simon. Padahal, meskipun pekerjaan mereka memulung sampah banyak dari mereka yang mampu membeli rumah.

Gereja di desa Mokattam didirikan pada tahun 1975 setelah pemerintah memindahkan Zabbaleen ke wilayah tersebut pada tahun 1969. Setelah pendirian gereja, Zabbaleen yang pernah merasakan penggusuran di Giza pada 1970, merasa lebih aman di lokasi mereka dan baru kemudian mulai menggunakan bahan bangunan yang lebih permanen seperti batu bata untuk bahan pondasi rumah mereka.

Pada tahun 1976, kebakaran besar terjadi di Manshiyat Nasir, yang memicu pembangunan awal gereja pertama yang berlokasi di bawah pegunungan Mokattam dengan luas 1.000 meter persegi. Beberapa gereja telah dibangun ke dalam gua-gua yang ditemukan di Mokattam, di mana gereja Santo Simon adalah yang terbesar dengan kapasitas 20.000 kursi. Nama Santo Simon diambil dari seorang pengrajin sepatu yang dianggap orang suci bernama Simon yang hidup pada abad ke-10.

Wisata ke wilayah pemukiman pemulung mungkin dinilai sebagai destinasi wisata yang dipandang sebelah mata terlebih lagi sulit menjangkaunya jika kondisi sedang berangin. Akan tetapi hal tersebut dikesampingkan beberapa wistawan karena keunikan arsitektur gereja Santo Simon dan lingkungan tempat berdirinya. Setiap tahunnya ada ratusan peziarah dari berbagai negara mengunjungi gereja terbesar di timur tengah yang berdiri di timur Sungai Nil tersebut.

Sumber: amusingplanet.com | architecture.curiouscatnetwork.com | atlasobscura.com