Giuseppe Ferlini, Penjarah Terkenal yang Menghancurkan Piramida Meroë di Sudan

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Giuseppe Ferlini, lahir di Bologna pada tahun 1797. Kehidupannya bisa dikatakan tidak baik, ia sering kali bersitegang dengan ibu tirinya sehingga membuatnya merasa ingin selalu kabur dari rumah.
Sampai pada waktunya ia benar-benar kabur, ia melewati Kota Venesia dan Corfu, belajar tentang kedokteran, dan pada tahun 1822 ia akhirnya menjadi bagian dari pemberontak Yunani dalam menghadapi Turki di Semenanjung Peloponnese.
Dalam pemberontakan tersebut, pasukan Ferlini dikalahkan musuh dan ia melarikan diri dari wilayah Yunani pada tahun 1827. Ia kemudian memutuskan untuk pergi menuju Mesir; dan sampai di negeri itu pada tahun 1829.
Di Mesir, pertama kali ia tiba Aleksandria dan langsung menuju ke Kairo. Di sana, ia menjadi dokter dari sebuah kepala batalion infanteri. Dalam jabatannya, ia ditugaskan untuk menemani Resimen 1 untuk perjalanan ke Sennar, Sudan, untuk memperluas perbatasan pemerintahan Mehmet Ali, putra gubernur Mesir saat itu.
Perjalanan tersebut memakan waktu lima bulan dan membuat Ferlini mengunjungi tempat-tempat peninggalan arkeologis, seperti Khartum dan Wadi Halfa.
Dari situlah, minat akan peradaban kuno mulai muncul dalam diri Ferlini. Mulai saat itu, ia senang mengumpulkan informasi dari banyak orang, dan menemukan kabar burung tentang harta karun yang dipendam oleh Fir’aun.
Demi memenuhi obsesinya, Ferlini bekerja sama dengan salah satu pedagang yang bernama Albania Antonio Stefani. Mereka menjalin kesepakatan, dengan Stefani berjanji akan mendanai perjalanan tersebut dan hasil harta karun terpendam yang ditemukan akan dibagi dua. Tujuan mereka adalah Meroë, sebuah kota kuno yang berada di Sudan.
Mereka berdua pun pergi ke Meroë pada bulan Agustus 1834, ditemani oleh istri-istri mereka, tiga puluh pelayan, dan ratusan kuli angkut, dan sejumlah kuda dan unta. Akan tetapi, proses penuh tantangan itu tidak semulus yang dibayangkan. Pertama, mereka mencoba mengakses situs yang telah setengah terkubur itu, tetapi tidak berhasil. Kemudian, mereka juga gagal dengan beberapa reruntuhan yang tertutup oleh pasir.
Sementara itu, penyakit mulai menyerang para pekerja dan hewan.
Segalanya menjadi sangat sulit hingga Ferlini memutuskan untuk mencoba peruntungannya dengan Piramida Meroë. Kala itu, ia mendengar legenda dari pekerja lokal yang mengatakan tentang emas tersembunyi di dalamnya. Ia kemudian mempekerjakan ratusan warga lokal untuk mencari dan menemukan emas tersebut.
Obsesi Ferlini terhadap harta karun rupanya sudah telanjur berlebihan. Ia bahkan tak ragu mengambil keputusan untuk menghancurkan Piramida Meroë.
Ferlini kemudian menemukan sebuah ruang rahasia di dalam piramida terbesar yang sekarang dikenal sebagai N6. Di dalamnya dihiasi dengan pernak-pernik indah dengan beberapa benda yang menarik untuk dilihat. Semua yang ada di dalam sana adalah perunggu. Memang bukan emas, namun setidaknya mereka tidak kembali dengan tangan kosong.
Bagi Ferlini, usahanya ternyata tidak sia-sia. Namun, bagi para arkeologi dan pencinta sejarah, perbuatannya jelas keterlaluan.
Hari ini, hampir tidak ada hal baik yang dapat dikenang dari sejarah dirinya, kecuali keburukan yang telah ia lakukan dengan menghancurkan sekitar empat puluh piramida di Meroë. Ferlini meninggal dunia di Bologna pada akhir tahun 1870 dan dimakamkan di pemakaman biara Carthusian Certosa di Bologna. [*]
