Hidup-Mati Aleksander Agung yang Aneh dan Misterius

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahkan hingga saat ini, taktik dan strategi militer Aleksander Agung masih dikaji di berbagai akademi militer. Sejak kemenangan pertamanya pada usia 18, Aleksander sudah mendapatkan reputasi sebagai pemimpin pertempuran dengan kecepatan yang mengesankan. Strateginya memungkinkan pasukan dalam jumlah lebih kecil mampu menghancurkan garis musuh yang belum siap bertahan.
Akan tetapi, di balik segala hal yan luar biasa darinya, hampir sulit untuk memisahkan fakta dan fiksi dari kisah-kisah yang menceritakan tentang Aleksander Agung. Cara ia menjalani hidup memang fantastis, oleh karenanya ia pun kerap dideskripsikan secara hiperbolis.
Tentang deskripsi bau badannya, misalnya, boleh jadi merupakan fakta yang telah dihias kesan hiperbolis. Lusius Mestrius Plutarkhos, juga dikenal sebagai Plutarch, pernah menyebutkan bahwa Aleksander memiliki tubuh dengan: "Bau yang paling menyenangkan". Dalam laporan yang ditulis 400 tahun setelah kematian Alexander, Plutarch menulis bahwa bau sedap yang keluar dari kulit Alexander benar-benar menyenangkan banyak orang. Ia pun menuturkan bahwa, "Napas dan bau badan di sekujur tubuhnya begitu harum sehingga dapat mengharumkan pakaian yang dia kenakan."
Deskripsi wewangian memang telah menjadi bagian dari tradisi yang mengaitkan atribut dewa kepada raja yang menguasai banyak wilayah. Tidak seperti manusia biasa, keturunan dewa dianggap memiliki aroma tubuh istimewa. Alexander sendiri secara terbuka menyebut dirinya sebagai Putra Zeus, selama kunjungan ke Siwah pada tahun 331 SM.
Selain fiksi yang senantiasa membumbui cerita hidupnya, Aleksander Agung juga kerap berkaitan dengan perangai dan ihwal yang tak lazim. Bahkan, penyebab kematiannya pun misterius dan jasadnya diperlakukan dengan cara aneh.
Berdandan ala Persia setelah menaklukkannya
Setelah enam tahun melakukan serangan yang lebih dalam ke Kekaisaran Persia, pada tahun 330 Sebelum Masehi (SM), Alexander akhirnya berhasil menaklukkan Persepolis. Tempat ini merupakan pusat budaya Persia.
Alexander menyadari bahwa cara terbaik untuk mempertahankan kendali atas Persia adalah dengan "menjadi seperti mereka". Ia pun mulai mengubah penampilan selayaknya orang lokal, dengan mengenakan tunik bergaris, ikat pinggang, dan mahkota serta gaun Kerajaan Persia. Sikapnya tentu membuat cemas para budayawan puritan di Makedonia.
Pada tahun 324, demi memantapkan akulturasi, ia pun mengadakan pernikahan massal di Kota Susa, Persia, di mana ia memaksa 92 orang terkemuka dari Makedonia untuk menikah dengan perempuan Persia. Aleksander sendiri menikahi dua orang Persia, Stateira dan Parysatis.
Kematiannya ada salah satu misteri terbesar dunia kuno
Perjalanan hidup Aleksander yang istimewa mulai menemukan titik terbawahnya pada tahun 323 SM. Alexander Agung jatuh sakit setelah menenggak semangkuk anggur di sebuah pesta. Dua minggu kemudian, pemimpin berusia 32 tahun itu meninggal, tapa ada yang mengetahui penyebabnya.
Beberapa spekulasi pun bermunculan, seperti dugaan bahwa Aleksander telah dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Kecurigaan ini jatuh pada orang-orang di sekitarnya, terutama terhadap Jenderal Antipater dan keluarganya, Cassander (yang pada akhirnya akan memerintahkan pembunuhan istri dan putra dari Alexander).
Beberapa penulis biografi kuno bahkan berspekulasi bahwa Aristoteles, yang memiliki hubungan dengan keluarga Antipater, mungkin juga terlibat. Sementara pada zaman modern, para ahli medis berspekulasi bahwa malaria, infeksi paru-paru, gagal hati, atau demam tifoid, mungkin telah menjadi salah satu penyebab kematian Alexander Agung.
Setelah meningal, jasad Aleksander pun menerima perlakuan yang tak biasa. Plutarch melaporkan bahwa tubuh Alexander awalnya dirawat di Babilonia oleh pembalsem daro Mesir. Tetapi, ahli Mesir Kuno, A. Wallis Budge, berspekulasi bahwa jenazah Alexander justru direndam dalam madu untuk mencegah pembusukan.
Satu atau dua tahun setelah kematian Alexander, barulah tubuhnya dikirim kembali ke Makedonia. Sial, belum sampai di tujuan, rombongan pengantar mayat dicegat. Jasadnya pun dikirim kembali ke Mesir atas perintah Ptolemeus I, salah satu mantan jenderalnya. Dengan mengendalikan tubuh Alexander, Ptolemeus berharap dipandang sebagai penerus kerajaannya.
