Konten dari Pengguna

Industri Kulit Tradisional Kota Fez

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri Kulit Tradisional Kota Fez
zoom-in-whitePerbesar

Foto: Wikimedia Commons

Didirikan pada abad ke-8, Fez--kota terbesar ketiga di Maroko--memiliki karakter tradisional yang masih dijaga sangat baik hingga sekarang. Khususnya di lokasi penyamakan kulit The Souq, di mana industri tersebut telah berjalan hampir seribu tahun.

Setiap hari, banyak pria akan bekerja di bawah terik matahari untuk memproses kulit sapi, domba, kambing, dan unta. Guna melunakkan kulit, mereka menggunakan campuran rendaman air kencing sapi, kapur, air, dan garam.

Untuk melembutkan kulit, mereka memanfaatkan campuran rendaman air dan kotoran merpati. Sementara demi meraih warna natural, mereka merendamnya dalam pewarna vegetasi alami, layaknya bunga poppy (merah), nila (biru), kayu cedar (coklat), daun mint (hijau), dan kuma-kuma (kuning).

Kemudian, masih di Kota Fez, kulit-kulit itu akan diubah menjadi produk berkualitas tinggi, seperti tas, mantel, sepatu, dan sandal. Semuanya dilakukan secara manual, tanpa perlu mesin modern, dan metode tersebut hampir tidak berubah sejak abad pertengahan.

Sebagian dari bahan kulit tersebut juga dijual kepada pengrajin lain yang tersebar di kota lain di Maroko; banyak pula yang diekspor ke pasar Eropa.

Sumber: atlasobscura.com | lonelyplanet.com