Jamur Tinder, Pemantik Kemajuan Peradaban dan Perjodohan

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Logo api pada aplikasi Tinder juga terinspirasi dari manfaat jamur ini.

Foto: commons.wikimedia.org
Para pengguna aplikasi kencan daring Tinder tentunya tak asing dengan istilah swipe right dan swipe left. Sederhananya, swipe right berarti 'suka' sedangkan swipe left itu 'tidak'. Jika kebetulan kamu dan orang lain sama-sama saling menyukai profil satu sama lain, maka kalian dapat saling berkirim pesan dan mungkin dapat saling mengenal lebih dekat.
Tetapi, tahukah kamu mengapa Tinder memakai logo api? Serta, mengapa swipe right dan swipe left dapat diibaratkan dengan proses menyalakan api? Mari kita simak asal-usul filosifinya, yang akan membawa kita kepada pengetahuan awal manusia purba.
Dilansir Science Daily, api memiliki peran sangat penting dalam tahap awal evolusi manusia. Tidak hanya bermanfaat untuk memasak, keperluan menghangatkan tubuh saat hidup para leluhur masih di dalam gua, dan memberikan cahaya tatkala gelap, api juga krusial untuk praktik sosial dan ritual.
Untuk mempertahankan api tetap menyala, menurut bukti arkeologi yang berusia 7.000 tahun, manusia menggunakan beberapa jenis jamur pada pohon yang kering. Jamur ini pula, yang dikenal dengan sebutan tinder (fomes fomentarius), berfungsi sebagai bahan bakar awal (seperti minyak).
Dalam prakteknya, jamur tinder digunakan untuk menangkap percikan ketika manusia prasejarah menggosok sedimen bebatuan yang kaya akan zat besi. Potongan lapisan terluar dari fomes fomentarius akan membara cukup lama sehingga manusia dapat membuat nyala lebih besar dengan menaruh kayu-kayu di atasnya.
Deskripsi jamur tinder yang sanggup menangkap percikan itulah yang kemudian mengilhami Jonathan Badeen untuk menggunakan logo api pada aplikasinya. "Kami menyukai tema api semacam itu, jadi sebenarnya kami melihat melalui kamus, tesaurus, dan semacamnya, mencari kata-kata yang berhubungan dengan api."
Sementara tentang swipe right dan swipe left, menggesek layar smartphone ke kiri dan ke kanan tanpa henti, itu seperti tindakan manusia purba yang menggosok-gosokkan batu. Sampai akhirnya kamu mendapatkan 'percikan kecocokan', sebagaimana fungsi fomes fomentarius, Tinder akan menjaga apinya menyala lebih lama.
Sumber: rewindandcapture.com | sciencedaily.com
