Kanal Gowanus, Aib Menjijikan Kota Modern New York Selama Berabad-abad

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada akhir abad ke-19, kehidupan kumuh di sepanjang Kanal Gowanus di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, yang busuk, menjadi mimpi buruk bagi banyak orang. Bau busuk yang berasal dari genangan air sepanjang 1,8 mil itu cukup menyengat untuk menembus mimpi orang banyak.
Dialami oleh Stephen Mooney. Pada tahun 1889, bau tak sedap mengguncangnya dari tidurnya. Bau ini pun memaksanya untuk menutup jendela dan mengungkapkan keluhannya. Mooney — seorang sekretaris perusahaan kereta api lokal— adalah salah satu dari beberapa orang yang mengeluh tentang kehidupan di samping kotoran yang mengalir dan mengendap.
Komisi Kanal Gowanus, yang dibentuk oleh komisaris kesehatan setempat dan seorang anggota dewan, harus mendengarkan banyak keluhan itu. Air di kanal tersebut sebenarnya hampir tidak bisa lagi disebut "air", karena selalu memiliki penampilan yang kotor dan kental.
Keadaan belum berubah, setelah pembentukan Komisi Kanal Gowanus. Saat angin bertiup kencang, air masih menyebarkan baunya ke beberapa blok yang terletak cukup jauh. Penduduk terus berkomentar tentang warnanya yang berubah-ubah: terkadang abu-abu dengan sensasi masam, kadang hijau yang memualkan, sempat pula tampak pusaran licin minyak keunguan.
Kanal ini layak mendapatkan sarkasme dari julukan kontemporernya, yang disebut "Perfume Creek" dan "Lavender Lake". Lebih dari 120 tahun setelah Mooney dan yang lainnya mengeluh tentang Gowanus yang berbau busuk, penduduk setempat masih mengeluh tentang hal itu.
Dalam minggu-minggu akhir tahun 2020, upaya remediasi senilai $1,5 miliar yang telah lama ditunggu dimulai di sepanjang kanal. Tetapi bahkan sejak zaman Mooney, kebutuhan agar sesuatu segera diselesaikan sudah menjadi berita lama.
“Kehidupan mereka yang dipaksa untuk tinggal di dekat kanal telah dibuat sengsara oleh genangan air,” gerutu New-York Tribune pada bulan Juni 1905,
Berabad-abad yang lalu, para jurnalis beserta reformis Eropa dan Amerika mengangkat keluhan tentang bau yang menjijikkan menjadi seni — sebagian alasannya karena bau yang menyengat sering dianggap sebagai masalah hidup dan mati. Sebelum para ilmuwan memahami bahwa mikroorganisme-lah yang membuat kita sakit, mereka menyalahkan udara kotor. Dalam kasus Kanal Gowanus, mereka menganggap baunya sebagai sumber segala penyakit.
Selama beberapa dekade, Gowanus senantiasa tampak di puncak restorasi. Namun, proses penanggulangannya tak pernah selesai. Jurnalis New York Daily News bahkan sempat mengira kemajuan akan segera terjadi pada tahun 1970, dengan pengumuman insinerator senilai $110 juta; dan pabrik pembuangan limbah yang disiapkan untuk mencegat jutaan galon limbah yang tidak diolah (mengalir ke kanal setiap hari).
Upaya pengerukan awal pada tahun 2020 pun diharapkan alam selesai pada pertengahan 2023. Sementara itu, meski penduduk setempat kudu menghindari bau busuk, beberapa orang menganggap hamparan air yang kotor itu sebagai milik mereka. Kekotoran dan pengetahuan yang mengelilinginya, "Telah mengisi kanal dengan aura yang hampir fantastis," tulis The New York Times.
Genangan air kotor itu berusia lebih lama dari yang bisa diingat siapa pun (yang masih hidup sekarang). Akhirnya akan jadi bersih untuk pertama kalinya selama berabad-abad. [*]
