Konten dari Pengguna

Kanibalisme Tidak Menyehatkan dan Mengenyangkan

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kanibalisme Tidak Menyehatkan dan Mengenyangkan
zoom-in-whitePerbesar

Foto: ilustrasi daging | commons.wikimedia.org

Sebuah tulisan dari National Geographic mengungkapkan bahwa di zaman prasejarah seekor mamut dapat menjamin kebutuhan makan 25 Neanderthal selama lebih dari satu bulan. Dalam kondisi kelaparan yang sama, 25 Neanderthal itu akan merasa kenyang beberapa jam saja jika memakan seorang manusia.

Perbandingan tersebut bukan hanya didasarkan pada ukuran mamut yang lebih besar dari manusia, tetapi kalori yang terkandung dalam daging manusia memang lebih kecil--juga bila dibandingkan dengan seekor bison. Seekor mamut mengandung 3,6 juta kalori, bison menawarkan 612.000 kalori, dan seluruh tubuh manusia cuma 135.000 kalori.

Serta setelah dipotong dalam beberapa bagian tubuh tertentu yang berotot, kandungan kalori pada manusia malah lebih kecil ketimbang hewan. Sebagai contohnya, setiap 0,45 kilogram otot dari babi hutan dan berang-berang memiliki 1.800 kalori, namun pada manusia hanya 650 kalori.

Soal gizi yang didasarkan pada kandungan lemak dan protein pun daging manusia tidak memenuhi standar sebagai makanan bernutrisi. Hal ini ditegaskan oleh James Cole, seorang arkeolog dari Universitas Brighton di Inggris, dalam sebuah jurnal berjudul 'Scientific Reports'.

"Ketika Anda membandingkan kita (manusia) dengan hewan lain, spesies kita sama sekali tidak bergizi," tutur Cole dilansir The New York Times. Pernyataan itu didukung oleh David Levitsky, ahli nutrisi dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang menilai kandungan energi yang diberikan jaringan tanpa lemak dan yang berlemak pada manusia tak cukup bagus untuk dikonsumsi.

Jadi, kanibalisme yang dilakukan oleh suku-suku primitif tidak terjadi karena mereka yakin bahwa daging manusia lebih mengenyangkan atau lebih menyehatkan. Kelompok primitif hampir mustahil sadar tentang ilmu gizi pun mereka tak menghitung jumlah kalori dalam makanan.

Bagi Cole, kanibalisme justru lebih sering dimotivasi oleh 'pilihan' ketimbang 'kebutuhan'. Baik itu pilihan terdesak mengorbakan seseorang demi menyelamatkan lebih banyak orang dari kelaparan parah; pilihan dari tuntutan sebuah ritual.