Kecanduan Opium di Amerika Serikat, Peristiwa Kelam yang 'Didukung' Negara

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 1895, bubuk morfin dan opium telah menyebabkan epidemi kecanduan yang memengaruhi sekitar 1 dari 200 orang Amerika Serikat (AS). Jumlah yang cukup banyak ini sebenarnya mengejutkan, karena didominasi oleh wanita kulit putih dari kalangan ekonomi kelas atas atau kelas menengah.
Sejarah opium di Amerika Serikat sama tuanya dengan usia negara itu. Selama Revolusi Amerika, tentara Kontinental dan Inggris menggunakan opium untuk merawat tentara yang sakit dan terluka. Sementara Perang Saudara semakin membantu penyebaran penggunaan opium.
Benjamin Franklin sekalipun meminum opium pada usia lanjut, untuk mengatasi rasa sakit parah akibat batu kandung kemih. Dan Union Army pernah mengeluarkan hampir 10 juta pil opium untuk pengobatan tentaranya, ditambah 2,8 juta ons bubuk dan tincture opium. Atas hal tersebut, ada sejumlah tentara yang kemudian terpaksa dikembalikan ke rumah selama pengobatan, karena dampak candu opium yang parah.
Godaan opium pada masa itu memang luar biasa, sehingga dokter dan pasien sama-sama tergoda untuk menggunakannya secara berlebihan. Kemudahan akses atas dasar pengobatan medis senantiasa menjadi jalan pelincinnya. Sebagai contohnya, 15 persen dari semua resep yang diberikan di Boston pada tahun 1888 adalah opiat (zat opium), berdasarkan survei pada masa itu. Situasi semacam ini membuat para pengguna tak pernah kesulitan mendapatkannya.
“Pada tahun 1890, opiat dijual di berbagai apotek tanpa regulasi yang jelas. Dokter meresepkannya untuk berbagai indikasi penyakit. Kemudian apoteker menjualnya kepada pasien yang ingin mengobati diri sendiri," tulis Caroline Jean Acker, dalam bukunya yang terbit tahun 2002, Creating the American Junkie: Addiction Research in the Classic Era of Narcotic Control.
Kondisi menyedihkan itu mencapai puncaknya pada akhir abad ke-19, ketika lebih dari 60 persen pecandu opium adalah wanita. Para dokter telah menggunakan opiat untuk mengobati penyakit kewanitaan, seperti komplikasi uterus dan ovarium.
Sebenarnya, sepanjang tahun 1870-an dan 1880-an, jurnal kedokteran sudah dipenuhi dengan peringatan tentang bahaya kecanduan morfin. Tetapi banyak dokter lamban untuk memperhatikannya, karena pendidikan kedokteran yang tidak memadai dan kurangnya inovasi pengobatan lain.
Faktor tekanan keuangan juga menjadi pendorong bagi banyak tenaga medis untuk menjadi penyuplai opium. Permintaan morfin sangat tinggi dari pasien kaya. Sementara persaingan dengan dokter dan apotek lain, yang bersedia memasok opiat, juga begitu menghasut penyimpangan.
Sekitar tahun 1895, harapan cerah untuk menghentikan epidemi kecanduan opium mulai terlihat. Dokter mulai memperlambat penggunaan opiat secara berlebihan. Kemajuan dalam dunia medis dan kesehatan masyarakat juga mulai pesat. Obat pereda nyeri baru, seperti aspirin pun ditemukan pada tahun 1899. Semua kondisi ini saling membendung penggunaan opium secara berlebihan.
Setelah undang-undang negara bagian, yang disahkan antara tahun 1895 dan 1915, membatasi penjualan opiat kepada pasien dengan resep yang valid, hal ini akhirnya menutup ketersediaan opiat. Secara bersamaan juga menghilangkan dampak ketergantungannya.
