Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.102.2
Konten dari Pengguna
Kecanduan Pedas, Kecenderungan Masokis
21 Maret 2018 20:00 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:10 WIB
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Jangan samakan pedas dengan manis atau pahit, sebab kaidah ilmiahnya lebih cocok dengan panas dan sensasi disakiti.
ADVERTISEMENT
Rasa, kata ini punya banyak maksud, yang dalam KBBI merujuk pada banyak kasus. Rasa bisa diartikan sebagai tanggapan indra terhadap rangsangan saraf seperti manis, pahit, atau masam. Rasa jua, yaitu panas, dingin, atau nyeri. Serta, rasa adalah tanggapan hati kita terhadap sesuatu.
Jika dikerucutkan dalam soal lidah, hanya ada lima rasa dasar yang dikecap: asin, asam, manis, pahit, dan umami. Sudah jelas, pedas tak masuk dalam bagian ini, bukan juga hasil kombinasi dari lima rasa dasar yang dikecap lidah.
Menukil dari Scientific American, makanan pedas merangsang reseptor di tubuh yang biasa merespons panas. Reseptor tersebut adalah serat rasa sakit, yang secara teknis dikenal sebagai polymodal nociceptors.
Sebagaian besar Nociceptors hadir pada lapisan luar kulit, selaput lendir mata, hidung, mulut, dan lain-lain. Ketika suatu nyeri terjadi, Nociceptors ini menjadi aktif dan mengirimkan sinyal ke otak, lalu mekanisme pelindung tubuh manusia pun diaktifkan olehnya.
ADVERTISEMENT
Itulah mengapa kita berkeringat saat makan pedas, juga mendadak kehausan padahal cuma makan sambil duduk dan bukan lari maraton. Penas dan sakit kompak menyerang saat kita kepedasan, tubuh manusia merespons dengan air demi melindungi diri.
Normal sekali sebetulnya jika kamu tidak menyukai pedas, atau cuma sesekali mencicipi pedas demi menghentak otak dengan sensasi yang mengusir penat. Ketidaknormalan justru ada pada kalian, yang tanpa amnesti konsisten menyiksa diri dengan pedas.
Awas, kecanduan pedas itu ketagihan disakiti, yang dapat juga memprediksikan bahwa kamu punya kecenderungan masokis: orang yang meraih kenikmatan serta kepuasaan lewat rasa sakit.