Konten dari Pengguna

Keledai Bercelana di Pulau Rhea

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keledai Bercelana di Pulau Rhea
zoom-in-whitePerbesar

Sumber: Anes en Culotte | commons.wikimedia.org

Di masa lalu, wilayah Poitou, Prancis, sangat terkenal akan keledainya --yang oleh warga lokal disebut Baudet du Poitou. Hewan ini berukuran besar, jenis keledai pekerja, yang dahulu dimanfaatkan untuk beragam jenis profesi manusia.

Hingga pertengahan abad ke-20, sekitar 30.000 Keledai Poitou dibiakkan kemudian diekspor ke berbagai negara. Tidak mengherankan, jika jenis keledai ini juga termasuk yang paling populer dan paling dicari di Eropa.

Terutama di Pulau Rhea (masih di Prancis) Baudet du Poitou dibudidayakan untuk industri garam. Keledai Poitou terbiasa membantu manusia guna memanen garam di rawa-rawa; oleh karena itu sering tergigit nyamuk atau serangga.

Alasan tersebut membuat para pemilik industri garam di Pulau Rhea sering menyuruh pegawainya untuk membuat celana khusus yang disebut Anes en Culotte --jika diterjemahkan berarti 'celana keledai'. Bahan dari kain tirai memberikan kenyamanan bagi keledai, sementara bagian kaki mereka pula terlindungi dari bermacam gigitan binatang kecil.

Pada saat ini, Keledai Poitou memang tidak lagi bekerja di rawa-rawa garam Pulau Rhea. Namun, tradisi mengenakan Anes en Culotte masih tetap berlanjut demi melestarikan budaya serta menarik minat wisatawan.

Sumber: iledere.com | ane-en-culotte.com