Konten dari Pengguna

Kesatria Abad Pertengahan Rela Menahan BAB demi Memakai Baju Besi

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pixabay/Eric Tanas
zoom-in-whitePerbesar
Pixabay/Eric Tanas

Gambaran kesatria abad pertengahan pasti selalu tentang para tentara kerajaan yang gagah berjalan dan bertempur dengan baju zirah. Seperti manusia besi, tubuh mereka dilindungi plat metal tebal, helm tempur untuk melindungi kepala, dan pedang panjang tajam untuk menghujam para musuh. Pakaian semacam itu memang kuat, namun juga ribet. Sebetulnya, di balik kegagahan itu, para kesatria mau tidak mau mesti menahan keinginan untuk buang air besar.

Pada awal abad ke-11, baju yang digunakan oleh para kesatria sebebarnya tidak seperti baju zirah yang sering kita lihat di berbagai film (dalam deskripsi saat ini). William Sang Penakluk, misalnya, hanya mengenakan kemeja panjang saat menaklukan Inggris pada tahun 1066.

Baju yang digunakan untuk berperang baru berubah pada abad ke-14, ketika para pengrajin dan pandai besi Italia serta Jerman membuat baju zirah yang terbuat penuh dari lempengan logam. Memang, dengan bahan dasar yang penuh dengan lempengan logam, ini memberikan keuntungan perlindugan di medan perang. Tetapi, sisi buruknya, baju ini amat menjengkelkan ketika pemakainya mulai ingin buang air besar (BAB). Bahkan sebelum pertempuan dimulai, mereka tidak bisa buru-buru buang hajat saat sudah kebelet.

Kenapa ribet sekali?

Wikimedia Commons

Baju zirah yang digunakan para kesatria tidak memiliki plat logam pada bagian selangkangan atau bokong. Guna melindungi area tersebut, para kesatria mengenakan rok logam kuat yang menjuntai dari panggul depan hingga ke bokong.

Para kesatria juga melindungi bagian selangkangan mereka dengan lapisan chainmail pendek, untuk mencegah musuh menghujam berbagai alat tajam ke area tersebut. Dan di bawah lapisan ini, para kesatria menggunakan legging katun berlapis, sehingga anggota tubuhnya terhindar dari lecet.

kumparan post embed

Sialnya, semua perlindungan itu membutuhkan waktu yang lama untuk memakainya. Terkadang, para kesatria pun butuh bantuan orang lain.

Masalah tambahan muncul ketika para kesatria akan mengenakan plat logam baja sebagai pelindung kaki. Bila tidak dikaitkan ke pinggang, plat logam baja ini akan meluncur dan menindih kaki. Walhasil, semakin banyak pelindung yang dipakai, kian sulit untuk melepasnya.

Sambil mengenakan semua itu, seorang kesatria membutuhkan bantuan pengawal jika benar-benar terdesak mesti buang air besar. Mereka butuh bantuan seseorang untuk mengangkat berbagai plat logam baja yang dikenakan.

Proses yang lama ketika menggunakan dan melepaskan baju zirah pada akhirnya memaksa kebanyakan kesatria menahan diri untuk membuang hajatnya. Hal inilah yang biasanya menjadi gangguan khusus ketika kesatria tersebut menderita disentri, kemungkinan besar dia akan memilih untuk buang hajat di dalam baju zirahnya.

Referensi: