Kesemek Hitam, Buah Berisi Puding Cokelat

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada gua golongan manusia dalam soal hidangan penutup. Pertama ialah yang mendukung buah sebagai hidangan penutup, sementara kedua ialah orang yang menentangnya. Beberapa orang rupanya cukup tegas untuk hal tersebut dan tak bisa menerima hidangan penutup selain pancake, puding, atau kudapan ringan lainnya. Kalaupun ada buah, biasanya berupa salad atau es campur. Jadi, satu jenis buah saja dianggap kurang pas sebagai hidangan penutup.
Akan tetapi, ada satu buah yang sangat pas disajikan sebagai hidangan penutup, golongan penentang pun kemungkinan akan setuju. Buah ini ialah kesemek hitam, yang menjadi jembatan sempurna antara fruit-desert dan mengaburkan batas di antara keduanya.
Ketika masih mentah, kesemek hitam memang sama sekali tidak menyerupai puding cokelat, karena putih dan pada dasarnya belum bisa dimakan. Barulah setelah matang, bagian dalam buah yang sama menjadi lembut dan lumer dengan warna cokelat gelap. Ada yang bilang bahwa rasanya enak, namun tidak ada sensasi cokelatnya. Sementara ada juga yang mengklaim rasanya manis, ringan, dan memiliki cita rasa cokelat.
Para petani lazimnya akan memanen buah kesemek hitam ketika berhijau dan masih keras, tepat sebelum mencapai kematangan penuh. Buah pun dibiarkan matang di rumah selama 3-6 hari. Pematangan setelah dipetik dari pohon ini ditujukan untuk mengantisipasi kesulitan panen ketika kesemek hitam terlalu matang, karena teksturnya yang berwarna cokelat kehijauan akan terlalu lembek untuk dipetik.
Selain memiliki nama ilmiah Diospyros nigra, buah yang dijuluki chocolate pudding fruit ini juga biasa disebut black sapote oleh para penjual bibit tanaman. Lebih kurang, butuh waktu 3-4 tahun bagi pohon kesemek hitam untuk berbuah, terhitung sejak ditanam saat masih bibit.
