Ketika Korban Perang Diamputasi Tanpa Obat Bius

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebelum eter dan kloroform digunakan untuk obat bius, mayoritas korban perang dioperasi dalam kondisi sadar.

Foto: commons.wikimedia.org
Amputasi telah dilakukan sejak zaman kuno dan kita dapat melihat sisi historisnya dalam beragam peninggalan. Bukti amputasi terdapat pada beberapa mumi di Mesir kuno, dalam catatan Hippocrates, serta dari penemuan torniket --yang digunakan militer Alexander Agung untuk mengikat pendarahan selama amputasi.
Di zaman modern ini, seorang pasien yang diamputasi lazim mendapatkan penanganan lebih cepat dan aman. Pun saat prosesnya, pasien akan dibuat tak sadarkan diri dengan obat bius sehingga tak perlu melihat langsung apalagi merasakan siksa dari amputasi.
Tetapi, antara penggunaan pengikat dan obat bius dalam amputasi terpaut jarak waktu sangat jauh. Berabad-abad lamanya. Alat seperti torniket yang digunakan pada zaman Alexander Agung pada abad ke-4 sebelum masehi itu masih bertahan sampai awal abad-19.
Di Prancis, sebelum Ambroise Pare muncul sebagai pelopor pengobatan luka perang modern, ahli bedah pada abad ke-15 bahkan menggunakan minyak mendidih untuk membakar luka atau menghentikan pendarahan setelah amputasi. Ketika diperlukan, mereka juga menempelkan setrika panas pada bagian tubuh yang dipotong.
Cara penyembuhan kuno dan kejam tersebut dihentikan setelah Pare menerbitkan teknik operasi lebih aman pada tahun 1564. Dia mengembangkan prosedur untuk mengikat pembuluh vena dan arteri guna menghentikan pendarahan lebih efektif.
Inovasi amputasi kemudian dikembangkan lagi oleh Jean Petit pada abad ke-17, dengan memperkenalkan metode two-stage circular cut. Melalui cara ini, amputasi dilakukan pada bagian lebih atas dari luka yang berpotensi infeksi. Petit juga membuat torniket yang dimodifikasi dengan sekrup untuk menyesuaikan tekanan pada bagian tubuh.
Lalu, hadir Dominique Jean Larrey yang mempopulerkan penanganan amputasi dalam proses lebih cepat. Saat Pertempuran Borodino (1812), dia memimpin tim medis melakukan 200 amputasi hanya dalam waktu 24 jam.
Barulah pada tahun 1842 Crawford Williamson, dokter dari Amerika Serikat, memperkenalkan penggunaan eter sebagai obat bius saat operasi. Kemudian ahli bedah Rusia Nikolay Ivanovich Pirogov menggunakan anestesi lebih baik dalam operasi lapangan selama Perang Krimea. Setelah mereka, amputasi berlangsung lebih aman; mayoritas korban perang tak perlu dioperasi dalam kondisi sadar.
Sumber: ncbi.nlm.nih.gov | britannica.com
