Ketika Rakyat Inggris Dikubur dengan Kain Wol

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selain dipercaya dapat menahan penyebaran wabah, mayat yang dibungkus wol juga meningkatkan sektor ekonomi.

Foto: commons.wikimedia.org
Tatkala wabah penyakit pes menyerang Inggris pada pertengahan abad ke-17, ratusan ribu manusia dilaporkan wafat setiap tahunnya. Pada tahun 1665, penyakit ini berkontribusi terhadap 219.601 kematian, jumlah yang sangat banyak dan mengkhawatirkan pemerintah.
Di sisi lain, saat itu Inggris sedang mencari cara untuk meningkatkan sektor ekonomi dari penjualan wol. Sedangkan mereka pula berencana mengurangi jumlah impor linen dari Prancis.
Linen adalah impor kedua terbesar bagi Inggris, sementara wol merupakan andalan ekspor mereka. Mudah untuk dipahami dari rencana mereka, jika penggunaan linen dikurangi dengan alternatif wol maka akan berdampak bagus bagi perekonomian. Sebuah peralihan ke kafan dari kain wol dapat mengurangi penggunaan lebih dari 1,9 juta meter linen pada 1665.
Lantas pada tahun 1665 itu juga, palemen mengesahkan aturan--yang memanfaatkan momen wabah pes--bahwa setiap orang mesti dikubur dengan kain wol. Mereka berkumandang, bahwa wol dapat menahan penyakit menular lebih lama daripada linen.
Bukan hal yang mudah diterima oleh masyarakat, ketika kafan dari bahan sebagus linen mesti diganti dengan kain lebih murah seperti wol. Linen tidak semata soal gengsi masyarakat kelas atas, jua merupakan bagian dari tradisi dalam agama. Rakyat tahu isi dalam Injil, yang memaparkan Yesus telah dikubur dengan bungkusan kain linen; kain itu yang masih melekat padanya saat kebangkitan.
Golongan pemberontak muncul pada dekade-dekade berikutnya, yang lazimnya ialah orang-orang kaya. Meski mereka mesti membayar denda 5 poundsterling (jumlah cukup besar pada abad ke-17 dan ke-18) akibat tidak mengubur mayat dengan wol, itu tak masalah selama mayat keluarganya dapat dikubur selayak mungkin.
Tahun 1814, aturan wajib mengenakan kafan dari wol akhirnya dicabut oleh pemerintah. Menurut Alice Dolan, sejarawan yang menulis tentang linen di Inggris, salah satu alasannya lantaran Inggris telah mampu mengurangi ketergantungan akan penjualan wol dan diversifikasi pada sektor ekonomi mereka berjalan bagus.
Sumber: history.ac.uk | theguardian.com
