Konten dari Pengguna

Kita Cenderung Mengembalikan Dompet yang Ditemukan

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dompet berisi uang | pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dompet berisi uang | pexels.com

Bayangkan diri Anda dalam situasi berikut: saat Anda berjalan kaki, ada sebuah dompet berisi sejumlah uang yang tergeletak di pinggir jalan tanpa mengetahui penyebab mengapa benda itu ada di sana. Apa yang kemudian akan Anda lakukan? Mengacuhkannya, membawa dompetnya, atau hanya mengambil uangnya?

Pertanyaan di atas agaknya bisa dijawab lewat riset yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Sertikat dan Swiss yang mengadakan eksperimen dengan cara menyebar sebanyak 17.303 dompet di 350 kota di lebih dari 40 negara. Dari sekian banyak dompet yang disebar, kemudian didata berapa orang yang mengembalikannya.

Hasil riset itu dipublikasikan di Jurnal Science. Hasilnya pun terbilang mengejutkan. Sebab, ternyata lebih banyak orang yang mengembalikan dompet beserta uang di dalamnya ketimbang hanya mengembalikan dompet setelah mengambil isinya. Kejutan tidak hanya berhenti di sana, karena ditemukan bahwa semakin banyak uang di dalam dompet, lebih banyak pula orang yang mengembalikannya.

Temuan ini menimbulkan satu pertanyaan baru, yaitu apakah sebenarnya kita semua dikendalikan oleh altruisme murni? Altruisme sendiri dapat diartikan sebagai hasrat manusia untuk membantu orang tanpa memperhatikan dirinya sendiri.

Jawabannya ternyata tidak juga. Peneliti menerangkan bahwa altruisme memang berperan dalam mendorong orang untuk mengembalikan dompet beserta uangnya. Namun di sisi lain, dorongan ini lebih erat kaitannya dengan keengganan untuk melihat diri sendiri sebagai seorang pencuri.

Setiap dompet yang digunakan dalam riset ini disertai dengan sebuah kunci, daftar belanja, serta tiga lembar kartu nama bertuliskan informasi palsu mengenai nama dan alamat surat elektronik. Isi daftar belanja yang digunakan bisa berbeda di setiap negara. Begitu pula dengan nama yang menyesuaikan dengan nama lazim di negara tersebut.

Dompet-dompet tersebut yang beberapa di antaranya diisi uang berjumlah 13,45 dolar disebar di tempat-tempat seperti bioskop, bank, museum, atau kantor pos. Asisten peneliti kemudian menemui karyawan atau petugas untuk menyerahkan dompet sambil mengatakan bahwa mereka menemukan dompet di luar. Selanjutnya, peneliti menunggu orang-orang yang ingin mengembalikannya melalui laporan ke alamat surat elektronik yang tersedia.

Ada beragam tingkat kejujuran di setiap negara yang tercermin dari laporan yang masuk. Di Swiss misalnya, tercatat 76 persen dompet dilaporkan, namun di China, persentase pelaporan dompetnya hanya 14 persen. Meski persentasenya berbeda jauh, ada satu kesamaan di antara kedua temuan di negara tersebut: dompet yang berisi uang lebih banyak dilaporkan ketimbang yang tidak.

Eksperimen kedua dilakukan di Amerika Serikat, Inggris, dan Polandia dengan menggunakan dompet berisi 94,15 dolar alias tujuh kali lebih banyak dibanding sebelumnya. Hasilnya, dari ketiga negara tersebut ada 72 persen dompet berisi uang berjumlah besar yang dilaporkan. Bandingkan dengan persentase dilaporkannya dompet tanpa uang (46 persen) dan dompet yang berisi uang dalam jumlah kecil (61 persen).

Kesimpulannya, seperti dipaparkan IFL Science, temuan ini sesuai dengan gagasan dalam dunia psikologi yang menyatakan bahwa seseorang bisa menipu untuk keuntungan pribadinya, kecuali perilaku itu membuat mereka harus mengubah persepsi atas diri mereka sendiri menjadi negatif.