Konten dari Pengguna

Kontroversi Kematian Philip II, Ayah Kandung Aleksander Agung

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembunuhan Philip II | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Pembunuhan Philip II | Wikimedia Commons

Saat masa Makedonia Kuno, Aleksander Agung telah mendapatkan citra yang kuat sejak masih muda. Dia adalah pemimpin yang berani, cerdas, dan berprestasi. Dia juga dikenal tegas serta tak kenal ampun. Dalam peperangan, dia dikenal beringas, selalu membantai dan mengeksekusi lawannya. Tak terlewat, dia juga sudi menikam temannya sendiri hingga tewas.

Citranya yang kuat, cemerlang, sekaligus mengerikan itulah yang kemudian mengantarkannya ke takhta tertinggi sebagai seorang raja. Semua karakter itu Aleksander Agung dapatkan berkat didikan dari ayahnya, Philip II.

Semasa hidupnya, Philip II merupakan seorang raja yang sukses dan berjasa menyelamatkan Makedonia dari ambang kehancuran. Dia sanggup mendominasi Yunani dan Balkan untuk menghindari keterpurukan di wilayahnya.

Dalam proses dominasi wilayah yang dilakukannya, dia menciptakan pasukan unik dan efektif. Pasukan ini dipimpin oleh sang anak, untuk melawan musuh-musuhnya.

Sayangnya, kepemimpinan Philip II berakhir pada 336 SM. Pada tahun tersebut, Philip II tewas ditusuk oleh pengawalnya sendiri yang bernama Pausanias. Dia wafat pada usia 47 tahun, setelah ditikam di antara tulang rusuknya. Kabar pada masa lalu menyebutkan bahwa motif pembunuhan ini didorong oleh faktor sakit hati.

Siapa dalang di balik kematian Philip II?

Philip II | Wikimedia Commons

Meskipun kabar tentang motif Pausanias sudah tersebar luas, sebagai bagian dari balas dendam akan masalah pribadi, tetapi spekulasi lain muncul ke permukaan. Banyak yang mempertanyakan, apakah Pausanias melakukan ini atas kehendaknya sendiri atau ada campur tangan orang lain yang punya peran lebih besar (?).

Orang-orang penting di lingkungan kerajaan pun mulai saling menuduh. Spekulasi semakin melebar dan membentur ke segala arah bak bola liar.

Aleksander, selaku anak, menuduh jika pembunuhan sang ayah didalangi oleh Raja Persia. Namun, beberapa orang justru menyalahkan ibu Aleksander, Olympias, sebagai dalang pembunuhan sang raja. Dari sekitar tujuh atau delapan istri Philip II, Olympias adalah salah satu istri yang memiliki konflik dengan suaminya. Konon, Olympias tidak suka dengan istri terakhir sang raja.

Kontoversi kematian Philip II masih menjadi misteri sampai sekarang. Ada banyak teori yang mencoba menjawabnya, tetapi semuanya saling bertentangan.

Rujukan: