Konten dari Pengguna

Kurungan Gereja St. Lambert, Siksaan Brutal terhadap Agamawan Radikal

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekitar lima ratus tahun yang lalu, kurungan ini menyimpan tiga mayat revolusioner, yang telah disiksa dan membusuk, yang memimpin salah satu revolusi Anabaptis paling brutal dalam sejarah.

Kurungan di Gereja St. Lambert | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Kurungan di Gereja St. Lambert | Wikimedia Commons

Di Gereja St. Lambert di Münster, Jerman, wisatawan dapat melihat tiga sangkar besi yang tergantung di menara, tepat di atas permukaan jam. Pemandangan semacam itu sama sekali tidak biasa, tentunya; dan ada fungsi khusus yang berkaitan dengan sejarah kelam keagamaan.

Pada abad ke-16, Kota Münster dimpimpin oleh pangeran-uskup terpilih, yaitu Franz von Waldeck. Waldeck seorang Katolik, tetapi dia membolehkan eksistensi segala jenis iman (selama itu berasal dari ajaran Kristen). Prinsip Waldeck ini menarik banyak orang yang mempunyai paham yang berbeda, karena memungkinkan mereka dapat menjalankan kepercayaan tanpa ancaman.

Dengan latar belakang itu, datanglah seorang Belanda bernama Johan Beukelszoon dari Kota Leiden. Ia mendengar bahwa Münster bersahabat dengan Anabaptis — ajaran Kristen yang dimasukkan ke dalam kategori Reformasi Radikal. Para pendukung Anabaptisme, yang oleh banyak orang dianggap sebagai cabang dari Protestantisme, percaya bahwa hanya orang dewasa (yang mengakui iman mereka kepada Kristus) yang dapat dibaptis, dan bukan bayi. Mereka juga percaya bahwa semua orang sama; dan semua kekayaan harus didistribusikan secara merata.

Setibanya di Münster, John dari Leiden — begitu dia biasa dipanggil— mulai menemukan banyak orang percaya dan mulai terbiasa dengan gagasan baru yang ia bawa. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjalin ikatan dengan beberapa pengkhotbah lokal. Bersama-sama, mereka mulai menyebatkan dakwah yang mengecam doktrin Katolik dan menanamkan konsep Anabaptisme.

Melalui pamflet yang didistribusikan ke seluruh Jerman bagian utara, kaum Anabaptis mengajak orang-orang miskin di wilayah itu untuk bergabung dengan warga Münster. Tujuannya: demi berbagi kekayaan kota dan mendapatkan manfaat secara spiritual. Tak lama kemudian John berhasil memobilisasi kelompok-kelompok besar di Münster. Para fanatik religius ini mengubah kota yang toleran itu menjadi suatu tempat yang sangat berbeda.

Franz von Waldeck | Wikimedia Commons

Sebagai akibatnya, Franz von Waldeck dan dewan kota diturunkan dari jabatannya, dan wali kota baru dilantik. Orang-orang yang dipercaya sebagai pendukung Franz pun diusir dari rumah mereka dan harta benda mereka disita. Mereka digantikan oleh kaum Anabaptis yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya dalam jumlah besar.

Katedral dan biara berubah menjadi tempat pesta pora ikonoklasme (gerakan untuk menghapuskan ritual lama dari suatu agama), karena pembaptisan ulang menjadi hal yang wajib dilakukan. Uang pun dilarang dan kepemilikan properti dilarang. Buku turut dibakar.

Dengan kata lain, Franz von Waldeck telah termakan oleh prinsipnya sendiri, dan dikudeta oleh orang-orang yang sebelumnya ia rangkul.

Pembalasan Franz von Waldeck

Johan Beukelszoon, Bernhard Krechting, dan Bernhard Knipperdolling | Wikimedia Commons

John dari Leiden memproklamasikan dirinya sebagai pemimpin di Münster. Ia mendirikan Royal Order lengkap dengan Royal Court. Ia tak lupa membuatkan dirinya kostum raja. Poligami diwajibkan; dan John sendiri mengambil enam belas istri. Hukuman mati untuk pelanggaran sepele menjadi hal biasa pada masa kepemimpinannya. Sementara itu, warga malah menjadi kelaparan, karena makanan dan perbekalan semakin menipis.

Setelah lebih dari setahun kehidupan Kota Münster berlangsung tanpa hukum, Franz von Waldeck berhasil merebut kembali kota itu dari tangan kaum radikal. Pada bulan Januari 1536, John dari Leiden, Bernhard Knipperdolling (walikota baru), dan satu pengikut lainnya, Bernhard Krechting, disiksa dan dieksekusi di pasar Münster.

Mayat mereka kemudian dikurung dalam tempat seukuran peti mati dan digantung di menara Gereja St. Lambert. Di tempat itu jasad mereka tinggal selama lima puluh tahun berikutnya. Bahkan, setelah tubuh mereka tidak ada lagi, tiga kurung itu masih menggantung di menara gereja pada saat ini.

Referensi: