Lama di Amerika, Benda Bersejarah dari Irak Akhirnya Dipulangkan

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada sangat banyak benda-benda bersejarah peninggalan masa lampau dari wilayah Timur Tengah dan sekitarnya yang tersimpan di Eropa selama bertahun-tahun. Selama itu, benda-benda bersejarah tersebut berada sangat jauh dari tempatnya berasal dan dibuat.
Benda-benda bersejarah tersebut di antaranya adalah artefak hasil penggalian yang dilakukan oleh Museum Penn dan British Museum di reruntuhan Ur, sebuah negara kota di Mesopotamia Kuno atau yang sekarang masuk ke dalam teritori negara Irak.

Di sana, para peneliti yang datang dari Museum Penn di Philadelphia, Amerika Serikat, dan British Museum di London, menemukan ribuan pecahan tahan liat yang disertai tulisan aksara paku atau cuneiform. Banyak potongan tanah liat tersebut yang kemudian dikirim ke Museum Penn untuk diterjemahkan.
Setelah diteliti di Museum Penn, sejumlah artefak kembali ke Baghdad, namun banyak juga yang tetap disimpan di Philadelphia. Hal itu dikarenakan memang ada kesepakatan yang dibuat saat itu perihal tempat penyimpanan. Pertimbangannya, saat itu tidak ada orang yang punya kemampuan untuk membaca dan menerjemahkan tulisan tersebut di Irak.
Setelah bertahun-tahun, koleksi yang ada di Philadelphia mulai dikembalikan ke Irak seiring dengan semakin banyaknya ahli yang bisa membaca aksara paku. Pada 1991, ada ribuan dari 7500 artefak tanah liat yang kembali ke Irak. Sementara itu, sisa 4 ribu artefak lain masih berada di Amerika Serikat karena memiliki aksara paku yang sangat rumit untuk dibaca.
Meski demikian, upaya untuk terus mengembalikan artefak tanah liat dari Philedelphia ke Irak terus dilakukan. Tahun 2019 ini, ada 387 potongan artefak yang dijadwalkan dikirim pada 4 Desember. Artefak-artefak tersebut direncanakan disimpan di Museum Baghdad.
Tentu saja, membawa artefak kuno dari Amerika Serikat ke Irak bukan perkara gampang karena dibutuhkan langkah cermat guna menjaga benda-benda bersejarah tersebut tetap utuh dan tidak rusak. Untuk itu, digunakanlah pelindung berupa kotak yang dilapisi busa dan bubble wrap.
Sumber: theguardian.com| standard.co.uk | atlasobscura.com
Sumber foto: commons.wikimedia.org
