Lobotomi, Operasi Gangguan Mental dengan Prosedur 'Barbar'

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lobotomi, juga dikenal sebagai leucotomy, dikenal sebagai proses operasi bedah saraf yang melibatkan pemutusan koneksi pada lobus prefrontal otak. Dalam bahasa praktisnya, ini adalah serangkaian operasi berbeda yang dengan sengaja merusak jaringan otak untuk mengobati gangguan mental.
Lobotomi sudah kesohor kontroversial. Kendati banyak ditentang, praktik ini secara luas digunakan selama lebih dari dua dekade untuk pengobatan penyakit skizofrenia, depresi, gangguan bipolar, dan penyakit mental lainnya.
Pemanipulasian otak dalam ilmu medis dilakukan pertama kali pada tahun 1880-an oleh seorang dokter Swiss bernama Gottlieb Burkhardt. Saat itu, ia mengangkat bagian otak pasiennya; dan cara ini membuat mereka menjadi lebih tenang.
Lalu, tahun 1935, ahli saraf asal Portugal bernama António Egas Moniz, dikreditkan sebagai penemu lobotomi. Pada tahun yang sama, dua orang ahli saraf di Universitas Yale, yakni John Fulton dan Carlyle Jacobsen, juga telah melakukan prosedur lobotomi pada seekor simpanse.
Prosedur medis ini kemudian dipraktikkan terhadap manusia untuk pertama kalinya, pada akhir tahun 1935, oleh Moniz dan ahli saraf lain, Almeida Lima.
Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan pada tahun 2011 lalu, Journal of Neurosurgery, dilaporkan bahwa [menurut catatan Moniz ] pengobatan tersebut berhasil untuk pasien dengan kondisi depresi, skizofrenia, mania, dan serangan panik.
Hanya saja, operasinya memberikan efek samping yang cukup parah, seperti peningkatan suhu, muntah, kanker kandung kemih, masalah pada usus, mata, serta lesu, dan sensasi lapar yang tidak normal.
Komunitas medis yang mulanya mengkritik keras prosedur tersebut, harus menerima kenyataan pahit, ketika banyak dokter justru mulai menggunakannya di seluruh dunia.
Praktik operasi yang barbar
Prosedur dari lobotomi pasti melibatkan pemotongan lubang di sekitar tengkorak, lalu menyuntikkan cairan etanol ke dalam otak, untuk menghancurkan serat-serat yang terhubung dengan lobus frontal ke bagian otak lainnya.
Cara lain pernah digunakan oleh psikiater Italia bernama Fiamberti, yang melibatkan akses menuju lobus frontal melalui rongga mata, di mana ini kemudian menginspirasi ahli bedah saraf Amerika Serikat, Walter Freeman, untuk mengembangkan prosedur lobotomi transorbital pada tahun 1945.
Prosedur tersebut tidak memerlukan alat-alat bedah yang lengkap, bahkan tidak memerlukan ruang operasi. Tekniknya menggunakan sebuah material khusus bernama orbitoklas yang dimasukkan ke dalam rongga mata pasien. Lalu, material tersebut akan diarahkan ke lobus frontal, untuk memisahkannya dari talamus (bagian otak yang menerima dan menyampaikan masukan sensorik).
Bagi banyak orang, prosedur lobotomi memiliki efek negatif pada kepribadian pasien, karena juga dapat menghambat inisiatif, empati, dan kemampuan untuk melakukan sesuatu.
“Efek samping dari prosedur lobotomi dapat dirasakan dalam jangka waktu yang panjang, yakni kebodohan mental itu sendiri. Orang-orang tidak bisa lagi hidup mandiri, dan mereka telah kehilangan kepribadiannya,” kata Baron Lerner, sejarawan medis dan profesor di NYU Langone Medical Center, New York, Amerika Serikat.
Prosedur operasi lobotomi pada akhirnya mulai mereda menjelang pertengahan tahun 1950-an, ketika para ilmuwan telah mengembangkan obat antipsikotik dan antidepresan yang jauh lebih efektif.
Mulai saat itu, kesehatan mental sudah dapat diatasi dengan obat-obatan. Tidak lagi dengan operasi. Apabila obat-obatan kurang efektif, maka pasien dapat diobati dengan terapi elektrokonvulsif, yakni prosedur yang melibatkan aliran arus listrik melalui otak untuk memicu kejang singkat. [*]
