Mamluk, Hamba sahaya Paling Berkuasa di Mesir

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mamluk berasal dari bahasa Arab yang berarti "seseorang yang dimiliki". Mereka ialah "hamba sahaya" atau dalam bahasa lebih sederhananya berarti "budak". Bagaimanapun, Mamluk bukanlah budak biasa. Status mereka lebih tinggi. Budak dengan kasta paling bawah sama sekali tidak boleh membawa senjata atau melakukan aktivitas tertentu tanpa perintah dari majikan. Sedangkan Mamluk diperbolehkan menggunakan senjata dan beraktivitas seperti orang normal.
Hampir setiap anggota Mamluk juga memiliki bakat yang jarang dimiliki oleh budak biasa. Keahlian yang mereka miliki memungkinkan mereka dapat dengan mudah naik pangkat, bisa menjadi tentara, seniman, ilmuwan, peneliti, atau orang yang berdagang dengan kekayaan dan kekuasaan.
Keistimewaan mereka bukan itu saja. Dalam kehidupan Mamluk, seorang dokter atau tabib bisa saja dituntut apabila perawatan yang diberikan tidak sesuai. Maksudnya, apabila seorang dokter tidak bisa memberikan hasil yang pasien harapkan, maka para Mamluk dapat menggugat saat itu juga. Demi mengatasi komplain ini, para dokter menggunakan sebuah kontrak yang ditandatangani sebelum memulai perawatan.
Kisah yang paling heroik dari Mamluk adalah saat mereka berhasil menguasai Dinasti Ayyubiyah (1711 - 1250) yang telah berkuasa selama 79 tahun. Padahal, Mamluk hanyalah sekelompok suku di luar dinasti. Suksesnya pendudukan telah membuktikan betapa kuatnya kelompok Mamluk ini.
Kesuksesan Mamluk lantas memungkinkan mereka mendirikan kekuasaan baru: Kesultanan Mamluk (1250 hingga 1517). Mereka berada di puncak kejayaannya pada abad ke-14, ketika dipimpin oleh Sultan al-Nasir Muhammad ibn Qalawun. Kekuasaannya kemudian menjadikan Kairo sebagai salah satu kota terkaya di dunia.
Dalam urusan perang, Dinasti Mamluk selalu menggunakan strategi dan taktik yang bersih, dalam arti tidak ada satupun kelicikan dalam taktik perang mereka. Namun eksistensi mereka tidak abadi, pada tahun 1516 saat perang melawan Turki Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Selim I, Mamluk harus mengakhiri masa kejayaannya. Mereka pun mesti mengakui kebangkitan Ottoman sebagai kekuatan baru di Timur Tengah.
Rujukan:
