Konten dari Pengguna

Marimo, Harta Alami Nasional dari Jepang

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Marimo, Harta Alami Nasional dari Jepang
zoom-in-whitePerbesar

Foto: flickr.com

Ada banyak nama panggilan untuk aegagropila linnaei, semacam bola cladophora yang tenggelam di dasar danau. Dalam bahasa Inggris, ini disebut moss ball atau lake ball. Sementara orang-orang Jepang lebih mengenalnya sebagai marimo.

Bola lumut tersebut dapat tumbuh dalam kisaran diameter 12 hingga 30 sentimeter, bergantung usia dan di mana kita menemukannya. Permulaan bentuk bulatnya dimulai oleh kemunculan filamen-filamen ganggang hijau pada satu titik yang sama, kemudian tumbuh ke segala arah dan mengokohkan fondasi berbentuk bola. Ganggang semakin lebat dan gelombang air yang lembut membantu perekatan bentuk bulatnya.

Tidak di semua negara kita dapat dengan mudah menemukan marimo. Hanya di Australia, Islandia, Skotlandia dan Jepang, kita bisa leluasa mencarinya.

Terutama di Danau Akan, Jepang, status marimo dilindungi --bahkan dipuja, dan secara resmi telah disahkan sebagai harta alami sejak 1920. Sementara festival marimo telah menjadi acara tahunan, konservasi dan upaya besar untuk melestarikan marimo juga rutin dilakukan di Danau Akan.

Tapi, nasib kurang menyenangkan justru terjadi pada habitat marimo di Danau Myvatn, Islandia. Polusi dan pertambangan sejak tahun 1960-an telah melimpahkan fosfor dan nitrogen dalam jumlah besar ke dalam danau, alhasil perairan mengeruh dan menghalangi sinar matahari mencapai dasar danau. Tanpa sinar matahari, marimo mustahil hidup; fondasi berbentuk bulat menjadi sangat rapuh bila dihempaskan gelombang.

Foto: nytimes.com | mossball.com