Konten dari Pengguna

Marshalsea, Penjara yang Makin Menyengsarakan Pengutang

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Marshalsea, Penjara yang Makin Menyengsarakan Pengutang
zoom-in-whitePerbesar

Foto: Penjara Marshalsea di London, Inggris | commons.wikimedia.org

Sejak abad ke-14, sampai reformasi Undang-undang Debitur diperkenalkan pada 1869 di Inggris, setiap orang dapat dijebloskan ke penjara dengan utang minimal 40 shilling (sekitar 278 poundsterling atau lima juta rupiah pada saat ini). Tidak mengherankan, selama periode itu, sekitar 10.000 orang pasti masuk penjara setiap tahun lantaran utang.

Dan di antara banyaknya penjara debitur di Inggris, yang paling terkenal ialah Marshalsea. Merupakan wadah hukuman berlipat, yang makin menyengsarakan para pengutang. Deskripsi keji mengenai penjara ini mulai populer melalui pemaparan tulisan Charles Dickens, seorang novelis yang ayahnya mendekam di Marshalsea cuma gara-gara tak mampu membayar utang ke tukang roti.

Masuk ke Marshalsea berarti diperbudak hukum seumur hidup. Debitur yang sudah mendekam di Marshalsea, lazimnya sangat sulit untuk keluar lagi. Bagaimana tidak, untuk dapat dibebaskan, debitur wajib melunasi utangnya kepada kreditur dan melunasi tagihan-tagihan selama hidup di penjara.

Narapidana tidak hidup secara gratis di Marshalsea, mereka mesti membayar uang sewa tempat tinggal dan makanan. Mereka juga diwajibkan membayar sejumlah denda jika merusak tangga, berkelahi, ketahuan mencuri, dan sebagainya.

Maka, juga tidak mengherankan, sekitar 300 narapidana mati kelaparan hanya dalam kurun watu tiga bulan pada 1729. Toh mereka memang tak punya uang guna membeli makanan di penjara, semakin depresi ketika mengingat hutang kepada kreditur kian mustahil untuk dilunasi. Sedangkan yang dapat bertahan hidup di Marshalsea hanyalah para debitur yang cukup kaya, dan golongan ini pun perlu bersikap irit.

Namun, dengan segenap cerita kelamnya, Marshalsea pula menyisakan sedikit keleluasaan bagi narapidananya. Mereka diperbolehkan membawa sanak keluarga untuk hidup bersama di penjara --ketimbang mesti membayar sewa rumah secara terpisah-- dan diizinkan pula membuka ladang usaha.

Beberapa narapidana membuka kedai kopi atau rumah steak, sementara yang lain juga menikah, melahirkan, dan membesarkan anak di sana. Ada juga tukang jahit, tukang cukur, dan bahkan para pelacur dadakan yang terpaksa meladeni birahi lantaran utang.

Lembaga permasyarakatan yang kacau balau ini akhirnya ditutup pada 1842 melalui Undang-undang Parlemen Inggris. Saat para debitur itu dibebaskan oleh pemerintah, di antara mereka telah menetap di Marshalsea selama 30 tahun.

Sumber: The Guardian | Encyclopaedia Britannica | History Today