Masalah di Balik Rambut Gondrong Tentara Jerman

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tentara identik dengan rambut pendek. Ini adalah hal yang lazim ditemui di unit tentara manapun di dunia. Biasanya aturan rambut bagi tentara adalah tidak boleh menyentuh telinga atau mata, juga pakaian seragam. Sedangkan untuk tentara perempuan biasanya boleh memiliki rambut panjang namun harus diikat.
Kewajiban berambut pendek bagi tentara berkaitan dengan hal yang bersifat praktis, terutama soal kebersihan. Dalam tugas, tentara bisa harus berada di tempat yang dihuni serangga-serangga kecil dalam waktu lama. Jika tentara berambut panjang, serangga bisa bersarang di sana.
Alasan lain adalah keseragaman yang juga identik dengan tentara. Setiap personel diharuskan menggunakan atribut, pakaian, serta aksesoris yang sama selain gaya rambut.
Meski demikian, sejarah mencatat ada masa-masa di mana tentara bisa punya rambur gondrong. Seperti dicatat sejarawan Romawi bernama Tacitus, dulu anggota suku-suku di Jerman hanya boleh memotong rambutnya apabila bisa membunuh musuh dalam pertempuran.
Tentara berambut gondrong juga bisa dijumpai dada abad ke-19. Saat itu, tentara Inggris yang terlibat dalam Perang Krimea diperbolehkan memanjangkan rambutnya, bukan rambut yang berada di kepala melainkan rambut di wajah alias kumis dan jenggot. Setelah Perang Krimea berakhir, memiliki kumis bahkan menjadi kewajiban meski arsip foto menunjukkan bahwa banyak tentara Inggris yang mengabaikan peraturannya dan lebih memilih mencukur kumisnya.
Pada 1972, perkara rambut sempat menjadi persoalan saat anak muda bernama Albrecht Schmeissner mendaftarkan diri ke angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr. Saat itu Schemeissner memprotes aturan yang mengharuskannya memotong rambut dengan alasan bahwa memanjangkan rambut adalah hal konstitusional warga negara.
Schemeissner tidak sembarangan saat melakukan protes. Ia menemukan celah dalam peraturan yang menyatakan bahwa rambut harus dirawat, namun tidak ada ketentuan mengenai panjang maksimum yang diperbolehkan. Meski demikian, protesnya hanya berlangsung selama 45 hari karena ia diancam akan dilaporkan dengan tuduhan aksi pembangkangan dan akhirnya Schemeissner dengan terpaksa harus merelakan rambutnya dipotong.
Protes Schemeissner boleh kandas, namun hal itu membuat para petinggi Bundeswehr berpikir ulang soal rambut panjang yang telah menjadi mode baru. Pada 8 Februari 1971, Menteri Pertahanan Jerman Helmut Schmidt mengeluarkan dektir yang memperbolehkan tentara berambut gondrong selama mampu merawat dan menjaganya agar selalu bersih. Jika rambut panjang sampai menganggu tugas, tentara bisa menggunakan penutup kepala seperti yang digunakan koki saat memasak.
Dekrit Schmidt menimbulkan protes dari dalam maupun luar negeri. Tentara pun khawatir bahwa menggunakan aksesoris penutup kepala bisa membahayakan kesehatan mereka. Bundeswehr kemudian meminta dokter untuk menyelidik masalah tersebut hingga akhirnya terungkap bahwa rambut panjang tentara dapat mengundang kotoran dan kutu yang berpotensi menimbulkan penyakit kulit.
Aturan rambut panjang bagi tentara Bundeswehr pun hanya bertahan selama 15 bulan. Setelahnya, tentara dilarang memilii rambut yang menyentuh kerah baju seragam dan aturan ini tak berubah hingga puluhan tahun kemudian.
Sumber: reddit.com | amusingplanet.com
