Mati Kelaparan dengan Perut Penuh Makanan dan 4 Hal Aneh pada Kungkang

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gaya hidup serba lambat yang dijalani oleh kungkang memang sangat berlawanan dengan paradigma manusia, yang menghargai kegesitan dan efisiensi waktu. Berperilaku layaknya kungkang adalah dosa bagi kehidupan modern kita, yang serba cepat nan riuh.
Akan tetapi, ciri khas kungkang itu bukan tanpa sebab. Hewan ini memiliki beberapa faktor fisiologis yang membuatnya tidak bisa bertindak tangkas, seperti karena mata penglihatan mereka yang buruk.
Baca tulisan sebelumnya: Rahasia Kungkang dan 5 Kekuatannya yang Fantastis
Berikut ini ialah lima hal unik yang hanya dimiliki oleh kungkang, beberapa di antaranya menjadi penyebab mengapa kungkang sangat lambat dalam bergerak:
Membuang sepertiga dari berat badannya dengan BAB
Kungkang memiliki kebiasaan buang air yang benar-benar abnormal (dari sudut pandang manusia). Mereka hanya akan buang air kecil sekali dalam seminggu. Pun dapat kehilangan hingga sepertiga dari berat badannya dalam satu kali buang air besar. Selain itu, kungkang hanya akan buang air di tanah, setelah bergoyang-goyang di sekitar pangkal pohon untuk menggali lubang kecil.
Perilaku buang air kungkang masih menjadi salah satu misteri terbesar bagi para peneliti. Salah satu dugaannya, kemungkinan karena berkaitan dengan sistem reproduksi dan metabolisme.
Butuh 30 hari untuk sekadar mencerna daun
Tingkat metabolisme kungkang ialah yang paling rendah ketimbang semua mamalia, yang berarti hewan ini membutuhkan waktu paling lama untuk mencerna apa pun. Bahkan saat melahap sebuah daun, kungkang butuh waktu sekitar sebulan untuk mencernanya.
Bisa mati kelaparan dengan perut kenyang
Tidak seperti mamalia lainnya, demi menghemat energi, kungkang mengorbankan kemampuan untuk mengontrol suhu tubuh. Hewan ini benar-benar mengandalkan kondisi lingkungan.
Suhu tubuh mereka dapat berfluktuasi (naik-turun) lebih dari 10 derajat celius selama satu hari. Dari 30 derajat, tiba-tiba turun ke 20 derajat celsius, lalu naik atau turun lagi.
Ketika iklim di sekitarnya terlalu dingin, mikroba khusus yang hidup dalam perut kungkang bisa mati, dan kungkang pun tidak lagi bisa mencerna apa pun yang dimakannya. Mereka akan mati kedinginan dengan perut yang terisi penuh makanan.
Batas usianya adalah misteri
Sangat sulit mempelajari kungkang di alam liar, sehingga belum ada ilmuwan yang pernah mengikuti hewan ini sejak lahir hingga kematiannya. Alhasil, hampir mustahil untuk secara akurat menentukan rata-rata daya tahan usia kungkang.
Kungkang pun sulit untuk dipelajari di tempat penelitian, karena sulit bertahan hidup di luar lingkungan alaminya.
Adapun kungkang tertua, yang pernah disaksikan perjalanan hidupnya oleh manusia, berusia 50 tahun dan dia tinggal di kebun binatang di Jerman. Kemungkinan kungkang liar bisa hidup lebih lama dari ini.
Berkat kungkang, alpukat menyebar luas
Kondisi fisiologis kungkang yang aneh ternyata memberikan dampak positif terhadap ekosistem. Pada masa lalu, kungkang tanah raksasa (Megatherium) kesohor sebagai mamalia yang memiliki sistem pencernaan cukup besar dan mampu memproses biji alpukat besar secara utuh. Mahluk yang telah punah ini memang gemar melahap alpukat dan akan menyebarkan bijinya ke berbagai tempat. Walhasil, alpukat pun tumbuh di berbagai tempat di Bumi.
Semua kungkang pohon merupakan hasil evolusi dari Megatherium dan diperkirakan ada lebih dari 80 jenis kungkang pada saat ini.
Ada pula bukti yang menunjukkan tentang beberapa spesies laut yang betul-betul berbeda dari kungkang pohon, yang mencari makan dari rumput laut di air dangkal.
