Konten dari Pengguna

Melestarikan Warisan Dunia via Platform 'Pengamat Perubahan Iklim'

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Situs warisan dunia
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Situs warisan dunia

Baru-baru ini, Google sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia yang bergerak dalam bidang jasa dan internet telah meluncurkan sebuah platform. Platform ini memungkinkan kamu untuk melihat perubahan iklim di berbagai situs peninggalan warisan dunia secara virtual di monitor.

Proyek tersebut bernama “Heritage on the Edge”, dimana sistemnya menggunakan pemetaan 3D dan alat bantu foto lainnya untuk menangkap gambar dari situs warisan dunia. Dengan cara ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dari wisatawan dan masyarakat umum akan pentingnya sebuah situs peninggalan dunia.

Foto: "Heritage on the Edge” diharapkan dapat meningkatkan kesadaran wisatawan dan masyarakat umum tentang pentingnya sebuah situs peninggalan dunia

Adapun situs-situs yang dipetakan antara lain, Rapa Nui di Pulau Paskah, Kilwa Kisiwani di Pantai Swahili Tanzania, Masjid Kota Bagerhat di Bangladesh, Kota Tua dan Baru Edinburg di Skotlandia, dan kota kuno Chan Chan di Peru. Kelima situs ini telah diklasifikasikan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Google mengatakan, bahwa upaya ini adalah untuk menyinari beragam dampak perubahan iklim terhadap monumen dan situs budaya.

Pada laman platformnya sendiri, di dalamnya memiliki 50 pameran online, termasuk model 3D, tur street view, isi wawancara dengan masyarakat lokal, dan dilengkapi juga dengan panduan yang menjelaskan bagaimana perubahan iklim dapat membahayakan setiap monumen dan dampaknya pada komunitas lokal.

Jika kamu berkunjung ke situsnya, kamu akan menemukan kerusakan yang terlihat siginifikan akibat perubahan iklim yang sedang berlangsung. Gambar dapat kamu klik dan memberikanmu ilustrasi dari dekat bagaimana semua peninggalan itu perlahan-lahan menuju kehancuran. Kamu bisa melihat bagaimana patung moai kuno Rapa Nui berisiko terkena naiknya permukaan laut, bagaimana reruntuhan kota Chan Chan dihancurkan oleh badai dan kekeringan, atau hujan yang terus menerus sehingga dapat menyebabkan keruntuhan Kastil Edinburg.

Untuk merealisasikan proyek ini agar dapat berjalan dengan lancar, Google sendiri bekerja sama dengan para ahli lokal di setiap situs, juga bersama dengan CyArk, sebuah organisasi nirbala yang memetakan gambar 3D dari situs budaya tersebut, dan Dewan Internasional tentang monumen dan situs untuk mengambil foto dan gambar 3D.

“Di atas segalanya, proyek ini adalah seruan untuk bertindak,” kata Toshiyuki Kono, presiden Dewan Internasional untuk monumen dan situs. “Efek perubahan iklim pada warisan budaya kita mencerminkan dampak yang lebih luas pada planet kita, dan membutuhkan respons yang kuat dan bermakna. Sementara tindakan di masing-masing situs dapat mencegah kerugian secara lokal, satu-satunya solusi berkelanjutan adalah perubahan sistemik dan pengurangan global emisi gas rumah kaca.”

Sumber: cntraveler.com | icomos.org | newsweek.com

Sumber foto: commons.wikimedia.org