Membangun Menara Tinggi demi Peluru yang Bulat

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menara peluru di Tasmania (Foto: Wikimedia Commons)
Sejak senjata api diciptakan pada abad ke-13, para produsen amunisi berjuang untuk membuat peluru berbentuk bulat. Awalnya, mereka menuangkan cairan timah ke dalam cetakan dan proses melelahkan ini hanya dapat menghasilkan peluru dalam jumlah terbatas. Mereka juga mencoba menuangkan timah cair melalui saringan, tetapi hasil tetesannya selalu memiliki ekor.
Inovasi brilian pun muncul pada 1782 dari seorang tukang ledeng bernama William Watts. Pria dari Bristol, Inggris, ini berhasil membuktikan bahwa untuk menghasilkan peluru bulat yang sempurna, maka cairan timah mesti dijatuhkan dari saringan pada jarak sangat tinggi (seperti dari atas menara).
Dalam proses percobaannya, Watts menyiapkan wadah air di lantai dasar rumahnya dan membawa timah cair ke lantai atas. Ketika timah menetes dalam bentuk bola, seketika peluru itu akan didinginkan dan dipadatkan oleh air.
Penemuan Watts lekas dipatenkan saat itu, segera meraih popularitas di berbagai negara Eropa. Dalam kurun lima tahun (1808-1813), empat menara peluru dibangun di Philadelphia dan St. Louis, Amerika Serikat. Sementara pada tahun-tahun berikutnya, jumlah menara peluru kian menjamur seiring penciptaan lift uap yang menggantikan peran tangga.
Masa keemasaan menara peluru tersebut akhirnya terhenti pada tahun 1961, tatkala Louis W Bliemeister memperkenalkan cara pembuatan peluru bulat yang lebih efektif. Melalui metedodenya, Bliemeister sanggup membuat bola timah, bahkan dari ketinggian 1 inci.
Sumber: oldindustry.org | hootinguk.co.uk
