Membuat Hewan Menjadi Transparan dan Indah dengan Diafonisasi

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diaphonization atau diafonisasi sebenarnya belum ada di dalam kamus besar Bahasa Indonesia. Namun menurut beberapa sumber, diafonisasi adalah cara membuat kulit tubuh makhluk hidup - biasanya hewan - menjadi transparan yang bertujuan memunculkan warna jaringan lunak dan melihat anatomi di dalam tubuhnya. Proses diafonisasi seperti ini pertama kali dikembangkan pada 1977 oleh peneliti bernama G. Dingerkus dan L.D. Uhler.
Makhluk hidup yang sudah mati mula-mula dicelupkan di zat kimia bernama tripsin, sebuah cairan enzim yang melarutkan daging secara perlahan. Pewarna merah alizarin dan biru alcian kemudian dipakai untuk mewarnai tulang, otot, tulang rawan dari objek yang digunakan. Proses perendaman disesuaikan sesuai keinginan.
Hasil dari diafonisasi akan menampilkan tubuh makhluk hidup yang transparan dengan warna cerah nan artistik, seperti pink dan biru. Biasanya hasil diafonisasi akan dimasukkan ke dalam tabung kaca untuk dipajang.
Menurut ahli biologi Sadie Stednitz, diafonisasi membawa keindahan pada tubuh makhluk hidup yang sudah tak bernyawa. "Daya tarik dari hasil diafonisasi adalah membuatnya menjadi objek visual yang indah dan juga sebagai bentuk apresiasi bagi lingkup studi biologi."
Namun tak semua makhluk hidup dapat melalui proses diafonisasi. Beberapa hewan berbulu seperti burung dan mamalia besar dianggap sulit melalui proses ini, sehingga kebanyakan hewan yang didiafonisasi adalah hewan-hewan kecil seperti katak, ikan, ular, tikus, atau kuda laut.
"Seekor tikus membutuhkan waktu enam bulan, jadi waktu proses adalah sebuah pertimbangan besar. Semakin padat dan besar jaringannya, maka semakin lama waktu untuk memunculkan warnanya," jelas Stedniz.
Sumber: atlasobscura.com | magazine.scienceconnected.org | Ripleys.com
