Mengagumi Nuasa Musik Bawah Air
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dari dalam akuarium, AquaSonic menyajikan nada-nada gelap tanpa kata-kata.

Foto: betweenmusic.dk
Ide untuk membuat musik eksperimental di bawah air bermula pada tahun 2002, ketika Laila Skovmand menyelidiki ragam efek suara yang dibiaskan oleh permukaan air. Sebelas tahun kemudian, setelah percobaan-[percobaan yang kurang memuaskan, ide Skovmand ternyata berkembang baik menjadi sebuah grup musik yang beranggotakan lima personel.
Bekerja sama dengan pembuat instrumen musik dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Denmark, mereka mengembangkan hydraulophone, crystallophone, rotacorda, serta biola yang dimodifikasi. Khusus untuk menangkap suara dari mulut manusia, band yang bernama AquaSonic ini menggunakan hydrophones (mikrofon khusus yang dapat berfungsi baik berada di bawah air).
Butuh waktu bertahun-tahun band untuk menyempurnakan teknologi yang mereka gunakan, melakukan banyak sekali eksperimen, sampai akhirnya dapat melakukan konser pertama di Belanda pada tahun 2016. Terutama bagi penyanyi utama Skovmand, menyanyi di bawah air adalah tantangan tak lazim, dia harus menghasilkan vokal yang stabil sekaligus menghemat napas.
Begitu juga bagi personel lainnya, Alih-alih menggunakan peralatan menyelam, harus sering muncul ke atas permukaan air untuk menghirup udara. Lalu kembali lagi selekasnya ke dalam air tanpa menyebabkan gangguan pada irama musik.
Usaha keras kelompok dari Denmark itu (bagian proyek dari Between Music) tentu tak sia-sia, kualitas musiknya kian membaik seiring waktu. Sampai sekarang pun AquaSonic tak memiliki saingan, mereka masih band pertama di dunia yang bermain di bawah air.
Sumber: betweenmusic.dk | mashable.com

