News
·
19 Oktober 2020 12:44

Mengungkap Legenda Ashima dan Asal Hutan Batu Shilin dengan Teori Permen

Konten ini diproduksi oleh Absal Bachtiar
Mengungkap Legenda Ashima dan Asal Hutan Batu Shilin dengan Teori Permen (250399)
Batu Ashima (paling kiri) | Wikimedia Commons
Syahdan ...

setelah menolak untuk menikah dengan putra seorang kepala suku setempat, seorang gadis muda bernama Ashima diculik oleh sang pelamar dan dibawa ke hutan belantara. Cinta sejati si gadis, Ahei, menyelamatkan gadis tersebut itu dengan mengalahkan penculiknya dalam pertandingan kontes menyanyi selama tiga hari.

Tetapi, dalam perjalanan kembali ke desa mereka, Ashima terpisah dari Ahei sebab hanyut terbawa banjir. Aliran air yang tiba-tiba besar ini ialah ulah putra kepala suku, yang tak dapat menerima kekalahan dan ia sengaja mencelakakan desa. Jasad Ashima tak pernah ditemukan oleh Ahei, sampai kemudian ia membatu dan abadi.

ADVERTISEMENT
Penggalan cerita itu, menurut pengetahuan Tiongkok, adalah asal muasal Batu Ashima di Hutan Batu Shilin yang ikonik. Sebuah formasi batuan monolitik yang menyerupai wanita berkerudung, yang membawa keranjang bambu.
Formasi bebatuan yang unik ini dikenal sebagai stone forest dan dapat ditemukan di belahan Bumi lainnya, seperti di Madagaskar dan Rusia. Bagaimanapun, ada misteri tersendiri pada Hutan Batu Shilin, di mana proses yang memberikan ujung berduri pada beberapa batu, seperti Asima, tidak dapat dijelaskan secara sederhana.

Jawaban dari permen

Mengungkap Legenda Ashima dan Asal Hutan Batu Shilin dengan Teori Permen (250400)
Hutan Batu Shilin | Wikimedia Commons
“Kami tahu umumnya fonomena stone forests terbentuk dari pelarutan batuan dasar,” kata Christopher Groves, ahli hidrogeologi di University of Western Kansas, “tetapi yang tidak diketahui dengan jelas secara mendetail adalah mengapa bentuk-bentuk berbeda ini terjadi.”
ADVERTISEMENT
Saat mempelajari dinamika fluida di lab, tim peneliti Leif Ristrophhead, dari Institut Ilmu Matematika Courant di Universitas New York, Amerika Serikat, membuat penemuan yang mengejutkan. Hasil eksperimennya dapat menjawab pertanyaan dari Groves.
"Kami telah bereksperimen dengan permen keras selama bertahun-tahun," katanya. Ristrophhead menjelaskan bahwa, karena merupakan padatan berpori dan tidak berbentuk, permen dapat menjadi "batu tiruan" yang bagus.
“Apa yang kami temukan adalah ketika Anda mengambil satu silinder permen dan membiarkannya dalam air, setelah sekitar satu jam permen itu akan larut dengan sendirinya menjadi (bentuk) lonjakan yang sangat tajam.”
Dengan ujung hanya berukuran selebar 10 mikron —sepersepuluh dari lebar rambut manusia— kata "tajam" sebetulnya merupakan pernyataan yang meremehkan. “Mahasiswa pascasarjana yang menjadi penulis pertama makalah ini, Jinzi Mac Huang (ahli geologi dari Tiongkok), melukai dirinya sendiri saat pertama kali kami melakukan eksperimen ini,” tambah Ristrophhead, “Sehingga itu menarik perhatian kami.”
ADVERTISEMENT
Mereka mulai memahami bahwa ketika air di sekitar permen bertambah berat, dengan gula terlarut dan tenggelam ke dasar tangki, hal itu menciptakan aliran air yang stabil dari ujung ke pangkal. Seiring waktu, aliran akan membentuk titik yang begitu halus sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang, atau tanpa bantuan pewarna makanan.
“Kami melihat fenomena ini terbentuk dengan sangat jelas dalam eksperimen kami,” lanjut Ristroph. “Kami menyadari fenomena itu (juga) bisa terjadi di suatu tempat di alam.”
Jika memang begitu proses alamnya, lantas setinggi apa banjir yang dahulu menutup Hutan Batu Shilin? Kecil sekali kemungkinan bencana banjir dalam legenda Ashima pernah benar-benar terjadi. Sebab, sekitar 270 juta tahun yang lalu, diperkirakan kawasan hutan batu itu adalah lautan dangkal.
ADVERTISEMENT
Referensi:

sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white