Konten dari Pengguna

Menilik Bahaya Senjata Mainan Bagi Anak-anak

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Senjata mainan Airsoft
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Senjata mainan Airsoft

Orang tua pasti senang membelikan mainan kepada anak-anaknya. Terutama anak laki-laki, pasti dibelikan mainan yang berkaitan dengan gender mereka seperti pistol, mobil-mobilan, robot dan lainnya. Ternyata sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Pediatrics mengungkapkan bahwa lebih dari 364.133 anak dari tahun 1990 sampai 2016 di Amerika Serikat mengalami cendera akibat senjata mainan. Penelitian ini mewakili rata-rata 13.486 anak yang mengalami cendera setiap tahunnya oleh senjata mainan.

Seperti yang kita ketahui senjata api non-bubuk sering dijual bebas sebagai senjata rekreasi. Mereka termasuk produk-produk populer seperti senjata peluru BB dan senjata airsoft. Tidak seperti senjata api tradisional, mereka mengeluarkan proyektil menggunakan alternatif untuk bubuk mesiu, seperti udara terkompresi, umumnya aman untuk tujuan rekreasi. Namun, penelitian ini memperingatkan bahwa senjata itu dianggap sebagai "berpotensi mematikan" karena banyak senjata non-bubuk menembakkan proyektil dengan cukup cepat "untuk menembus kulit manusia."

Foto: Anak laki-laki senang bermain perang-perangan dengan senjata mainan

Bagian tubuh seperti kepala dan leher adalah bagian yang paling sering terluka, namun tingkat cendera terfatal adalah cendera mata, khususnya, terkait senjata mainan melonjak sebesar 30 persen selama periode penelitian. "Cedera mata umumnya dilaporkan berkaitan dengan senjata mainan dapat mengakibatkan hasil yang serius, termasuk kehilangan penglihatan sebagian atau seluruhnya," menurut hasil penelitian tersebut. Dua puluh dua persen dari cedera mata yang mengakibatkan anak-anak masuk rumah sakit.

Penelitian ini diperkuat lagi oleh laporan dari Pusat Penelitian dan Kebijakan Cendera di Rumah Sakit Anak-anak Nationwide dimana sejumlah besar cedera, mulai dari memar yang tidak terlalu parah hingga patah tulang dan pecahnya bola mata akibat senjata mainan terjadi setiap tahunnya. Rata-rata anak yang terluka sekitar umur 10-12 tahun, sedangkan usia 13-17 tahun tidak begitu banyak. Hampir 90 persen catatan medis melaporkan anak laki-laki menjadi penyumbang terbesar kasus cendera.

Berdasarkan standar keamanan mengenai senjata mainan non-fungsional sebenarnya diatur dan dikembangkan bersama dalam Komisi Keamanan Produk Konsumen, Sayangnya tidak ada standar federal wajib yang mengatur keselamatan senjata api non-bubuk secara khusus. Sebagian besar industri telah mengadopsi standar sukarela, meskipun itu tidak membawa kekuatan hukum. Studi ini mencatat bahwa 23 negara bagian ditambah District of Columbia telah membentuk aturan mereka sendiri yang mengatur senjata api non-bubuk untuk mengisi celah peraturan federal.

Trio senator Demokrat, yang dipimpin oleh Bob Menendez, telah meminta Komisi Keamanan Produk Konsumen untuk mendorong standar yang mengatur senjata non-bubuk dalam hal ini senjata mainan. Dalam menanggapi permintaan para senator, komisi melaporkan bahwa organisasi penetapan standar sebelumnya telah mencoba dan gagal melakukannya. Badan itu baru-baru ini menolak resolusi yang akan menekan industri untuk membuat senjata api non-bubuk lebih mudah dibedakan dari senjata yang sebenarnya.

Memang selama penelitian tidak ditemukan data kematian akibat senjata mainan. Hal ini karena database yang digunakan dalam penelitian hanya berdasarkan laporan cedera bukan bersumber atas informasi tentang kematian, karena diambil dari laporan ruang gawat darurat. Kasus fatal tidak selalu diangkut ke ruang gawat darurat, juga catatan ruang gawat darurat tidak mencatat kematian pasien jika kemudian dipindahkan ke bangsal lain.

Kendati begitu, Dr. Gary Smith, direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Cedera, dalam siaran pers yang dikeluarkan Senin menyebutkan "Senjata api non-bubuk dapat menyebabkan cacat permanen, parah, dan bahkan kematian, mereka lebih kuat daripada yang dipikirkan banyak orang dan beberapa dapat mencapai kecepatan moncong yang mirip dengan pistol. Legislasi keselamatan yang lebih ketat dan lebih konsisten di tingkat negara bagian, serta lebih banyak pendidikan anak dan orang tua mengenai pengawasan yang tepat atas penanganan senjata mainan, dan penggunaan kacamata pelindung diperlukan. "

Sumber: bbc.com |mirror.co.uk | newsweek.com

Sumber foto: commons.wikimedia.org