kumparan
KONTEN PENGGUNA
10 Oktober 2019 8:05

Meteor Sebagai Penyambung Komunikasi Jarak Jauh

1_r-QmOSyixeiUCC8t87ZG_w.jpeg
Foto: Meteor adalah batuan luar angkasa yang jatuh menabrak atmosfer bumi
Setiap harinya triliunan batuan luar angkasa menabrak atmosfer bumi dan hancur sebelum menyentuh tanah. Momen batuan angkasa yang hendak jatuh ke bumi ini disebut meteor. Meteor ini ada yang bisa tertangkap mata ada pula yang tidak. Sebagian besar meteor pecah di ketinggian antara 80 hingga 100 kilometer.
ADVERTISEMENT
Meteor yang tertangkap mata biasanya berukuran cukup besar. Sebelum terjatuh ke bumi, meteor ini mengalami proses pengikisan dari tekanan udara di udara, pemanasan molekul, dan pelelehan akibat gesekan atmosfer. Hal itulah yang menyebabkan meteor meninggalkan jejak partikel yang bersinar di belakangnya dan disebut bintang jatuh. Sehingga 'bintang jatuh' ini bisa dilihat dengan mata telanjang.
Ionisasi juga berperan dalam memperlihatkan jatuhnya meteor. Ketika meteor menguap ke dalam molekul-molekul penyusunnya, mereka akan bergerak dengan kecepatan tinggi. Kemudian bertabrakan dengan molekul udara dan akan mengikis molekul-molekul tersebut sehingga menyebabkan ionisasi sepanjang lintasannya dan bercahaya.
Meteorit seukuran butiran pasir bahkan juga bisa membentuk jejak pecahan hingga 10 kilometer di udara. Karena atmosfer seringkali digempur dengan meteorit berukuran kecil, jejak ionisasi bisa ditemukan di atas atmosfer secara terus menerus.
ADVERTISEMENT
Bagaimana jika kita menggunakan jalur ionisasi ini untuk memantulkan gelombang radio untuk komunikasi jarak jauh? Faktanya, kita sudah menggunakan ionosfer—yang terletak di antara ketinggian 60 dan 1.000 km—untuk memantulkan gelombang radio dengan panjang gelombang pendek untuk menjangkau khalayak di luar lengkungan bumi.
Ionosfer dapat memantulkan gelombang frekuensi radio antara 3 hingga 30 MHz. Apa pun yang lebih tinggi melewati ionosfer. Tetapi kerapatan ionisasi di jalur meteor lebih tinggi daripada di ionosfer, yang memungkinkan gelombang radio frekuensi jauh lebih tinggi untuk dipantulkan kembali ke bumi.
Fenomena ionisasi dari meteor rupanya berguna juga dalam kehidupan manusia karena dapat memantulkan gelombang radio untuk komunikasi jarak jauh. Ionosfer dapat memantulkan gelombang frekuensi radio antara 3 hingga 30 MHz. Namun kerapatan ionisasi di jalur meteor lebih tinggi daripada di ionosfer, yang memungkinkan gelombang radio frekuensi jauh lebih tinggi untuk dipantulkan kembali ke bumi.
HantaroNagaoka.jpg
Foto: Hantaro Nagaoka adalah ilmuwan pertama yang menggunakan meteor untuk memantulkan gelombang radio
Fisikawan Jepang terkenal Hantaro Nagaoka adalah orang pertama yang menggunakan meteor untuk memantulkan gelombang radio pada tahun 1929. Meskipun sebelumnya ia beranggapan meteor dapat mengganggu gelombang radio.
ADVERTISEMENT
Pionir radio Amerika Serikat, Greenleaf Whittier Pickard dan peneliti Bell Labs A. M. Skellett, merupakan yang pertama menyarankan meningkatkan komunikasi radio ketika hujan meteor. Greenleaf Pickard mengamati bahwa semburan gelombang radio jarak jauh terjadi pada saat hujan meteor besar, sementara Skellett berteori tentang hubungan antara energi kinetik meteor dan ionisasi ionosfer.
Upaya signifikan pertama untuk menggunakan pecahan meteor sebagai penyambung komunikasi adalah JANET yang dilakukan oleh Dewan Riset Pertahanan Kanada pada awal 1950-an. Proyek JANET menggunakan sinyal sebesar 90 MHz untuk mengirimkan ledakan data pendek dengan jarak lebih dari 2.000 km. Sistem ini beroperasi hingga sekitar tahun 1960.
Pengembangan komunikasi menggunakan meteor lainnya juga dilakukan oleh NATO lewat proyek COMET (Communication by Meteor Trails). Pemancar gelombang berlokasi di Belanda, Prancis, Italia, Jerman Barat, Inggris, dan Norwegia.
Ilustrasi Meteor
Ilustrasi Meteor Foto: Pixabay
Sumber: britannica.com| amusingplanet.com
ADVERTISEMENT
Sumber foto: commons.wikimedia.org
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan