Konten dari Pengguna

Orang Afrika Kuno Dapat Memurnikan Emas Hanya dengan Kaca

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Butiran Emas | commons.wikimedia.org
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Butiran Emas | commons.wikimedia.org

Pada tahun 2005 silam, seorang arkeolog bernama Sam Nixon, bersama krunya dari British Museum, menemukan cetakan koin kuno saat mereka melakukan penggalian di Tadmekka, Mali. Mereka penasaran, bagaimana cara orang zaman dahulu membuat benda yang dicetak dari emas? Beberapa tahun berikutnya, hasil eksplorasi terhadap pertanyaan ini lantas memberikan pemaparan menakjubkan, tentang bagaimana cara orang-orang Afrika pada abad pertengahan melakukan pemurnian emas untuk mencetak uang.

Dalam penelusurannya, Nixon menemukan butiran-butiran kecil dari emas yang sangat halus, tersisa di dalam cetakan (yang dibuat pada abad ke-11), disertai dengan beberapa pecahan kaca halus yang misterius. Temuan tersebut kemudian menuntun para ilmuwan untuk melakukan reka ulang proses pemurnian emas, menggunakan metode yang pernah dipakai orang Afrika kuno, yaitu dengan menggunakan kaca.

"Ini adalah pertama kalinya dalam catatan arkeologis yang kami lihat bahwa kaca dapat digunakan untuk memurnikan emas," kata Marc Walton, dari Center for Scientific Studies in the Arts. Bahan kaca yang digunakan ini adalah hasil daur ulang dari sisa-sisa wadah yang rusak, yang kemungkinan ialah sebentuk cetakan untuk "dinar botak" atau koin yang belum dicap.

Foto: Mansa Musa (Raja Mali abad ke-14) manusia terkaya dalam sejarah | commons.wikimedia.org

Walton juga menjelaskan, bahwa orang-orang Eropa pada abad ke-10 dan ke-11 biasanya memurnikan emas mereka melalui sebuah metode yang dikenal sebagai cupellation, yaitu suatu proses di mana timah, emas, dan impurities, bercampur menjadi satu. Lalu, campuran tersebut dipanaskan ke dalam sebuah tungku sampai butiran-butiran emas yang lebih murni dapat disaring.

Namun, dalam kasus di Afrika abad pertengahan ini, mereka malah menggunakan ore (bijih) dan bahan mentah lainnya dari sungai dan mencampurnya dengan kaca. Karena emas bersifat lembam/lengai/tidak mudah mengalami perubahan kimia, maka emas tidak akan sepenuhnya larut dengan lelehan gelas. Cara inilah yang dinilai dapat memisahkan partikel-partikel emas dari kontaminasi mineral, sementara kotoran dan bahan-bahan lainnya akan bergumul dan lebih mudah dipisahkan.

Sudah ada banyak teknologi kuno yang direplika oleh Walton, namun kebanyakan hasilnya tidak dapat dikatakan bagus. Sebaliknya, metode dari Afrika ini berhasil diduplikasi secara laik dan hasilnya benar-benar baik.

“Orang-orang Afrika di abad pertengahan memiliki banyak bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan mereka. Sangat pintar bagi mereka untuk dapat melakukan pemurnian dengan metode yang satu ini,” kata Wilton.