Konten dari Pengguna

Para Leluhur Menciptakan Senjata dari Bahan Meteorit sejak Zaman Perunggu

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika manusia belum mampu menciptakan senjata dan peralatan lainnya dari besi, mereka menggunakan alternatif yang luar biasa dari meteorit.

Batuan meteorit yang bisa digunakan sebagai pengganti besi | Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Batuan meteorit yang bisa digunakan sebagai pengganti besi | Foto: Wikimedia Commons

Bumi tidak pernah kekurangan besi, zat tersebut membentuk sebagian besar inti dari planet ini dan merupakan unsur keempat terbanyak dalam kerak bumi. Akan tetapi, manusia baru benar-benar sanggup menguasai proses, dan menghasilkan alat dari besi dalam skala besar, sekitar 1200 tahun sebelum Masehi. Sebelum besi, leluhur kita masih mengandalkan perunggu.

Kendati demikian, pada Zaman Perunggu ternyata sudah ditemukan beberapa senjata atau peninggalan berharga yang bahannya hampir menyerupai besi. Sebetulnya lebih dari sekadar meyerupai, karena alternatif ini bahkan lebih istimewa. Sebagai contohnya ialah sandaran kepala, gelang, dan belati, yang digunakan oleh Tutankhamun (Firaun dari Dinasti Mesir kuno ke-18) yang berasal dari tahun 1324 sebelum Masehi, yang dibuat dari bebatuan luar angkasa.

Para arkeolog percaya, dan setelah dilakukan penelitian, benda-benda tersebut telah dibuat dari hasil peleburan meteorit. Anggapan ini pun membawa kita pada jawaban tentang mengapa orang-orang Mesir kuno, melalui hieroglif, menyebut besi sebagai pemberian "dari langit" dan bukan hasil penggalian dari tanah.

"Kesan saya adalah para arkeolog (sebelum penelitian) tidak dapat percaya bahwa orang-orang dari Zaman Perunggu telah mengetahui tentang meteorit," kata Albert Jambon, dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS) di Prancis.

Belati Alaca Hoyuk (atas) dan belati Tutankhamun (bawah) yang berbahan meteorit | Foto: Wikimedia Commons

Menurut Jambon, masyarakat Eropa baru mulai memahami tentang meteorit pada awal abad ke-19. Sementara itu, para ilmuwan dan filsuf pada era sebelumnya justru cenderung mengabaikan fakta penggunaan meteorit, dengan menuduh bahwa batu dari langit hanyalah dongeng atau cerita sihir dari dunia kuno.

Selain benda-benda yang ditemukan dari makam Tutankhamun, sebuah belati dari Alaca Hoyuk, Turki, juga menjadi bukti pembuatan alat berbahan meteorit oleh manusia pada Zaman Perunggu. Senjata ini dibuat pada tahun 2500 sebelum Masehi, atau sekitar 1300 tahun sebelum besi diproduksi.

Di tempat lain, ada pula sebuah koin berbahan meteorit dari Umm el Marra, Suriah, yang dibuat 2300 tahun Sebelum Masehi.

Kawah meteorit, tempat jatuhnya batu luar angkasa di Bumi | Foto: Wikimedia Commons

Jambon kemudian mengemukakan teorinya, bahwa orang-orang pada Zaman Perunggu bukanlah masyarakat terbelakang dan tidak berpengetahuan. Mereka justru tergolong amat cerdas. Para leluhur kita sadar bahwa benda berbahan meteorit ialah langka dan istimewa, maka mereka pun menetapkan harga jualnya dengan sangat mahal.

“Itu seperti berlian saat ini, bahan yang sangat berharga, yang hanya digunakan untuk perhiasan atau alat para raja," tutur Jambon.