Konten dari Pengguna

Penemuan Arkeologis di "Atlantis-nya" Mesir

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: commons.wikimedia.org
zoom-in-whitePerbesar
Foto: commons.wikimedia.org

Kementerian Peninggalan Sejarah (Ministry of Antiquities) Mesir telah mengumumkan serangkaian penemuan baru dari penggalian di reruntuhan dua kota bawah laut, Canopus dan Heracleion. Di kedua kota bawah laut yang --kerap disebut 'Atlantis-nya Mesir'-- berada di Teluk Abi Qir dekat Aleksandria itu tersimpan sejumlah peninggalan berharga seperti tembikar, kuil, dan timbunan emas.

Di Canopus, tim arkeolog bawah air yang dipimpin oleh Franck Goddio menemukan sisa-sisa bangunan, yang luasnya mencapai satu kilometer (0,6 mil). Tim juga menemukan perhiasan emas, koin emas (dari periode Bizantium), koleksi tembikar, dan koin perunggu (dari periode Ptolemaic, 305-30 SM). Mereka berujar, berbagai peninggalan itu menunjukkan kota tersebut pernah dihuni pada periode abad keempat SM sampai dengan era Islam yang dimulai pada abad ketujuh masehi.

Di Heracleion (atau Thonis, seperti yang dikenal dalam bahasa Mesir), para arkeolog menemukan beberapa bagian dari Amun Garp --kuil utama kota yang kondisinya sudah hancur. Ada juga sisa-sisa kuil Yunani yang lebih kecil dan potongan tembikar penyimpanan dan peralatan makan yang berasal dari abad ketiga dan kedua SM. Selain itu, ada koin perunggu dari pemerintahan Raja Ptolemeus II (285-246 SM) dan beberapa bagian puing tiang dari periode yang sama.

Sampai tahun 2000, keberadaan Thonis-Heracleion hanya diketahui sedikit karena dokumentasinya dalam teks-teks klasik kuno dan juga penyebutannya sangatlah jarang dalam prasasti yang ditemukan di daratan. Goddio memaparkan lewat situsnya bahwa kedua kota tersebut dulunya ialah pelabuhan utama untuk masuk ke Mesir dari Yunani sampai berdirinya Alexandria (dinamai dari Alexander Agung) pada 331 SM.

Sumber: antiquities.gov.eg | iflscience.com | franckgoddio.org