Pogonophilia, Melawan Stigma dan Diskriminasi dengan Jenggot

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam asal-usulnya, pogonophobia dibentuk oleh dua kata yang berasal dari bahasa Yunani: pogon (jenggot) dan phobos (takut). Istilah ini merujuk kepada mereka yang secara medis merasakan ketakutan saat melihat jenggot, terkadang sampai mual atau susah bernapas (akibat panik). Berkebalikan dengan istilah itu adalah pogonophilia, yaitu orang-orang yang amat mencintai jenggot.
Dilansir BBC International, Charles Dickens, Charles Darwin, dan Abraham Lincoln, adalah tiga contoh lelaki pogonophile. Tanpa perlu diskriminasi gender, wanita juga bisa menjadi seorang pogonophile. Setidaknya, meski wanita tidak memiliki jenggot, mereka menyukainya tumbuh pada wajah seorang pria.
Rasa cinta pogonophilia terhadap jenggot bukanlah hal biasa. Selain mempelajarinya, menambah wawasan tentang jenggot, tau cara yang bagus untuk merawatnya, mereka juga tak sungkan mengeluarkan banyak biaya untuk beragam produk perawatan jenggot.
Sikap yang dimiliki oleh seorang pogonophilia tentunya amat terbalik dengan pogonophobia. Orang-orang yang tak suka terhadap jenggot ini akan melakukan segala cara agar tidak pernah melihat jenggot. Suatu sikap yang tentu saja wajar, jika melihat kondisi medis mereka.
Akan tetapi, adakalanya pogonophobia sama sekali bukanlah kondisi medis. Sebutan pogonophobia juga kerap disematkan kepada mereka yang gemar menetapkan stigma terhadap seseorang berdasarkan jenggot. Misalnya, ketika seseorang menilai jenggot adalah identitas teroris Muslim, maka ia layak disebut pogonophobia.
"Rambut di wajah selama seabad terakhir telah dianggap mencerminkan corak individualitas dan pembangkangan yang mencurigakan," kata Christopher Oldstone-Moore, dosen sejarah di Wright State University, Ohio, Amerika Serikat.
Penulis jurnal The Beard Movement in Victorian Britain itu juga berpendapat bahwa mencukur jenggot bahkan telah menjadi "norma" atau aturan yang mengikat masyarakat Inggris sejak abad ke-17.
Kita tidak berkewajiban memilih salah satu, tidak mutlak harus menjadi pogonophilia atau pogonophobia. Bahkan boleh tidak memilih apa pun. Kita bebas bersikap untuk tidak mencintai jenggot; bebas juga untuk tidak menetapkan stigma terhadap yang menumbuhkannya.
Sebab adakalanya, seseorang menumbuhkan jenggot bukan atas dasar penegasan identitas politik atau dalih agama. Mungkin ia hanya merasa lebih percaya diri.
