Konten dari Pengguna

Port Royal, Kota Para Perompak yang Dipenuhi Kemaksiatan

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Port Royal | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Port Royal | Wikimedia Commons

Pada abad ke-17, Port Royal menjadi kota yang kerap disinggahi oleh bajak laut atau perompak. Kota di Jamaika ini dianggap sebagai surganya bagi para perompak Karibia pada saat itu. Ada banyak bar dan rumah bordil yang dapat dengan bebas mereka akses. Kota ini juga menjadi pusat perdagangan budak, material, dan beberapa bahan pokok lainnya, sehingga para perompak bisa mendapatkan kekayaan dengan mudah.

Port Royal memiliki masa kejayaan lebih dari 300 tahun. Mulanya, kota ini digunakan sebagai pelabuhan ketika diklaim oleh Spanyol. Pada masa kejayaan Spanyol di Karibia, Port Royal seakan kurang menonjolkan dirinya. Namun, semua berubah dengan drastis tahun 1650-an, ketika Inggris merebutnya dari Spanyol.

Untuk merebut Port Royal dari tangan Spanyol, Inggris melakukan kerja sama dengan sejumlah perompak Karibia, dengan imbalan sejumlah keuntungan. Perompak dijanjikan dapat dengan bebas mengatur kota, seperti mengatur hukum, bermain wanita, dan lain sebagainya. Sebagai gantinya, para perompak akan melindungi koloni Inggris yang berbasis di Ibu Kota Kingston, Port Royal, dan beberapa kota di sekitar.

Port Royal setelah bencana | Wikimedia Commons

Masa kejayaan Port Royal kemudian berakhir pada 7 Juni 1792, akibat gempa bumi yang disusul tsunami besar-besaran. Beberapa pemuka agama saat itu mengatakan, bahwa bencana ini merupakan hukuman Tuhan, sebuah azab Port Royal sebagai kota yang penuh kemaksiatan.

Bencana tersebut pun menenggelamkan sebagian besar kota hingga beberapa meter di bawah air. Menewaskan sekitar 2.000 orang, di antaranya adalah warga sipil, koloni inggris, dan para perompak.