Pulau Saint Helena, Akhir Hayat Napoleon Bonaparte

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setelah mengalami serangkaian kekalahan tokoh besar Prancis itu diasingkan dan wafat di Saint Helena.

Foto: Lukisan Napoleon di Saint Helena | commons.wikimedia.org
Terletak di Samudra Atlantik Selatan (sekarang berstatus sebagai British Overseas Territory) Pulau Saint Helena menjadi akhir sunyi dari kegemilangan karier seorang tokoh besar Prancis, Napoleon Bonaparte. Pada saat ini, pulau tersebut memiliki populasi lebih dari 4.500 jiwa dan penduduk yang paling terkenal di sana masilha mendiang Napoleon.
Sungguhpun kerap dideskripsikan untuk segenap prestasi cemerlang dalam dunia militer, tidak semua peperangan berhasil dimenangkan oleh Napoleon. Dia mengalami kegagalan beruntun setelah kalah dalam Pertempuran Piramida pada 1789, kemudian titik terendah keterpurukannya diterima usai kandas melawan persekutuan Inggris dan Prusia (bersama lima kerajaan lainnya) di Pertempuran Waterloo tahun 1815.
Inggris yang menguasai Saint Helena sejak abad ke-17 kemudian menjadikan pulau itu selaku tempat pengasingan Napoleon. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di sebuah kediaman yang disebut Longwood House, tanpa sanggup melahirkan ide-ide brilian tentang peperangan lagi, sampai wafat di usia 51 pada tahun 1821.
Kini, di Saint Helena yang sepi, yang ketika pertama kali ditemukan oleh Portugis pada tahun 1502 bahkan tak berpenghuni, hanya ada dua tempat yang paling sering dikunjungi oleh turis: bekas rumah Napoleon itu dan makamnya.
Sumber: nytimes.com
