Konten dari Pengguna

Quarantino, Asal-usul Kata dan Aturan Karantina

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi imbauan karantina | Kredit foto: oleh Alexey Hulsov dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi imbauan karantina | Kredit foto: oleh Alexey Hulsov dari Pixabay

Hampir tujuh abad lalu, para dokter dan petugas medis dibuat kewalahan oleh penyakit pes yang menghancurkan Italia. Pada abad pertengahan itu, mereka menyebutnya "wabah hitam", orang-orang belum memiliki pengetahuan tentang virus atau bakteri. Tetapi, mereka sudah cukup menyadari bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghentikan penyebaran dan mengurangi jumlah korban tewas.

Segera setelah laporan kasus wabah muncul di kota-kota Italia, seperti di Venesia dan Milan, para pejabat menerapkan langkah-langkah kesehatan darurat. Kebijakan ini diberlakukan di beberapa tempat tertentu, seperti palabuhan atau pasar, di mana orang-orang ramai berinteraksi dan sering kali menyentuh barang-barang dagangan.

"Mereka tahu bahwa Anda harus sangat berhati-hati dengan barang-barang yang diperdagangkan, karena penyakit ini dapat menyebar pada benda dan permukaannya, dan bahwa Anda (pun harus) mencoba yang terbaik untuk membatasi kontak antara satu orang-orang," tutur Jane Stevens Crawshaw, dosen senior Sejarah Awal Eropa Modern di Universitas Oxford Brookes, Inggris.

Adriatic, wilayah pelabuhan di Ragusa yang dahulu dikuasai oleh Republik Venesia, adalah tempat pertama yang menegakkan aturan isolasi demi menghambat penyebaran wabah pes. Semua kru kapal yang baru berlabuh dilarang untuk turun dan mesti tetap berada di dalamnya (setidaknya sampai dapat diketahui bahwa mereka terbebas dari berpenyakit).

Dalam catatan arsip di Kota Dubrovnik (Ragusa pada saat ini), disebutkan bahwa pada tanggal 27 Juli 1377 Dewan Utama menyetujui aturan: “Yang menetapkan bahwa mereka yang berasal dari daerah yang terkena wabah tidak boleh memasuki (Ragusa) atau distriknya kecuali mereka menghabiskan (selama) sebulan di pulau Mrkan atau di kota Cavtat, untuk tujuan disinfeksi."

Dalam buku Expelling the Plague: The Health Office and the Implementation of Quarantine in Dubrovnik, 1377-1533, Zlata Blazina Tomic menulis bahwa beberapa sejarawan medis menganggap dekret isolasi Ragusa adalah salah satu pencapaian tertinggi ilmu medis pada abad pertengahan. Dengan memaksa isolasi selama 30 hari bagi para pelaut dan pedagang di kapalnya, pejabat Ragusa menegaskan pemahamannya tentang masa inkubasi.

Aturan isolasi selama 30 hari itu dikenal dengan istilah "trentino". Bagaimanapun, menurut Stevens Crawshaw, para dokter dan pejabat memiliki wewenang untuk mengurangi ataupun memperpanjang masa isolasi. Dalam praktiknya, aturan baru pun diberlakukan, para pelaut mesti menaati "quarantino" atau isolasi selama 40 hari.

Asal-usul istilahya bermula dari kata quarantena (Italia) dan quarantaine (Prancis), yang menurut oleh Merriam Webster adalah persinggungan pengaruh yang kemudian menghasilkan kata quarantine dalam bahasa Inggris. Kemudian dalam padanan bahasa Indonesia, kita mengenalnya sebagai "karantina".

Beradasarkan uraian dari History, lama waktu 40 hari sebetulnya dipilih oleh para pejabat kesehatan karena memiliki makna simbolis dan keagamaan. Angka ini, bagi orang Kristen pada abad pertengahan, sangat lekat dengan firman-Nya. Ketika Tuhan membanjiri bumi, hujan turun selama 40 hari dan 40 malam dan Yesus pun berpuasa di padang belantara selama 40 hari.