Konten dari Pengguna

Sains di Balik 'Mukjizat' Terbelahnya Laut Jindo (1)

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laut Jindo | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Laut Jindo | Wikimedia Commons

Ratusan ribu penduduk lokal dan turis asing berkumpul di ujung selatan Semenanjung Korea, setiap tahun, untuk bersukacita dalam festival. Mereka merayakan fenomena alam ketika Laut Jindo (bagian utara Laut Cina Timur) terbuka cukup lama dengan jalur sepanjang 2,9 kilometer yang menghubungkan Pulau Jindo Korea Selatan ke pulau Modo di dekatnya.

Fenomena terbelahnya Laut Jindo mulai menjadi perhatian dunia luas pada tahun 1975, setelah diperkenalkan oleh mantan Duta Besar Prancis untuk Korea Selatan, Pierre Landy. Ia yang menyebutnya sebagai mukjizat Nabi Musa versi Korea, sebagaimana ditulis oleh surat kabar Prancis, yang merujuk pada mukjizat terbelahnya Laut Merah.

Tentunya, ada perbedaan kentara di antara keduanya. Berbeda dengan mukjizat Nabi Musa, yang masih sulit untuk dijelaskan oleh sains, terbelahnya Laut Jindo kemungkinan merupakan hasil dari surutnya air secara ekstrem. Kondisi ini disebabkan oleh fenomena lazim yang dikenal sebagai harmonik pasang surut.

Gravitasi matahari dan bulan menarik-narik permukaan air bumi dan menyebabkan pasang-surut. Naik turunnya permukaan laut secara berkala juga disebabkan oleh tarikan ini. Bergantung pada posisi masing-masing yang relatif berubah, baik matahari dan bulan, bisa menarik air dengan kekuatan dan waktu yang berbeda. Hal ini menyebabkan pasang naik di beberapa daerah dan pasang surut di tempat lain.

Dilansir National Geographic, Kevan Moffett, asisten profesor geo-sains di Universitas Texas, Austin, menyatakan bahwa posisi masing-masing matahari, bulan, dan bumi hanyalah salah satu dari banyak faktor yang berkontribusi terhadap terbelahnya Laut Jindo. Masih ada faktor-faktor lainnya yang juga turut berperan.