Konten dari Pengguna

Salju Semangka yang Pernah Membingungkan Aristoteles

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lantaran warna dan aromanya yang tak lazim, salju ini juga pernah dikira hasil endapan meteor.

Salju Semangka yang Pernah Membingungkan Aristoteles
zoom-in-whitePerbesar

Foto: watermelon snow | commons.wikimedia.org

Hamparan salju semangka telah menjadi misteri yang berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Dilansir National Center for Biotechnology Information (NCBI), filsuf Yunani kuno Aristoteles pernah meninggalkan catatan mengenai hamparan semacam itu (dia menyebutnya 'salju merah') tanpa memberikan penjelasan mengenai asal-usulnya.

Misteri salju semangka juga masih belum terpecahkan, berabad-abad kemudian pasca Aristoteles tiada. Sempat muncul spekulasi bahwa salju semangka disebabkan oleh endapan mineral atau kontaminasi bahan kimia dari bebatuan, bahkan salju ini juga pernah dikira hasil endapan meteor. Tetapi, spekulasi-spekulasi ini jelas keliru.

Hingga akhirnya pada bulan Mei 1818, empat kapal ekspedisi Inggris yang dipimpin Kapten John Ross menemukan hamparan salju semangka di pantai bagian barat Greenland. Saat pulang, dia membawa sampelnya untuk diteliti namun salju telah mencair terlebih dahulu menyerupai hasil perasan anggur merah. Meski begitu, berkat bantuan Robert Brown, ahli botani dari Skotlandia, Kapten Ross pun mulai menemukan jawaban tentang salju semangka.

Menurut spekulasi Brown, salju berwarna kemerahan itu disebabkan oleh sejenis alga mikroskopis (kala itu, Brown belum tahu pasti jenis alga yang dimaksud). Alga ini pula yang memberikan aroma segar khas semangka.

Beberapa dekade kemudian, hipotesis Brown terbukti benar. Alga yang menyebabkan salju semangka ialah chlamydomonas nivalis, yang sebenarnya termasuk jenis ganggang hijau tetapi mengandung pigmen karotenoid berwarna merah terang (berguna untuk melindunginya dari radasi ultraviolet matahari).

Ketika salju turun menutupi area di mana chlamydomonas nivalis tumbuh di musim dingin, warna salju sebetulnya masih putih. Lalu, saat memasuki musim semi dan panas, peningkatan cahaya matahari memicu pigmen karotenoid. Tak lama kemudian, alga yang berkembang semakin naik ke atas permukaan salju sehingga warna merahnya kian kentara.

Sumber: ncbi.nlm.nih.gov | smithsonianmag.com