News
·
3 Mei 2021 16:44

Sejarah 7 Dosa Mematikan

Konten ini diproduksi oleh Absal Bachtiar
Sejarah 7 Dosa Mematikan (59228)
Lukisan 'The Seven Deadly Sins and the Four Last Things' karya seniman Belanda, Hieronymus Bosch. | Wikimedia Commons/Museo del Prado (CC)
Pada abad keempat, seorang biarawan Kristen bernama Evagrius Ponticus menulis apa yang dikenal sebagai "Delapan Pikiran Jahat", yang terdiri dari: kerakusan, nafsu, keserakahan, kemarahan, kemalasan, kesedihan, kebanggaan, dan kesombongan.
ADVERTISEMENT
Evagrius tidak menulis untuk khalayak umum. Sebagai seorang pertapa biarawan di gereja Kristen Timur, dia menulis kepada biarawan lain tentang bagaimana delapan pemikiran ini dapat mengganggu latihan spiritual mereka.
Murid Evagrius, John Cassian, lalu membawa ide-ide ini ke gereja Barat, yang kemudian diterjemahkan dari bahasa Yunani ke Latin.
Pada abad keenam, St. Gregorius Agung — yang kemudian menjadi Paus Gregorius I— mengatur kembali gagasan Evagrius. Dalam komentarnya tentang Kitab Ayub, Gregorius menghilangkan "kemalasan" dan menambahkan "iri hati."
Ia pun menjadikan "kesombongan" pada tempatnya sendiri dalam daftar. Terpisah, "kesombongan" digambarkannya sebagai penguasa dari tujuh kejahatan sisanya. Lantas, kita pun mengenal sisa ini sebagai tujuh dosa mematikan.
Revisi atas gagasan itu terjadi pada abad ke-13, ketika itu teolog Thomas Aquinas meninjau kembali daftar di Summa Theologica ("Ringkasan Teologi"). Dalam daftarnya, Aquinas memasukkan kembali "kemalasan" dan menghilangkan "kesedihan".
ADVERTISEMENT
Seperti Gregorius, Aquinas pun menggambarkan "kesombongan" secara terpisah, sebagai penguasa tertinggi dari tujuh dosa
1. Kesombongan (Vainglory)/Kebanggaan (Pride)
Daftar ketujuh dosa sering kali menggunakan kesombongan dan kebanggan secara bergantian. Namun secara teknis, keduanya bukanlah hal yang sama, Menurut Kevin M. Clarke, seorang profesor kitab suci dan patristik di Seminari dan Universitas St. Patrick yang telah mengedit buku tulisan sejarah tentang tujuh dosa mematikan.
"Vainglory adalah semacam sifat buruk yang membuat kita memeriksa jumlah 'suka' di media sosial," katanya.
"Vainglory adalah tempat kita mencari pengakuan manusia."
2. Ketamakan
Gregorius Agung menulis bahwa keserakahan bukan hanya keinginan untuk kekayaan, tetapi untuk kehormatan [dan] posisi tinggi.
Jadi, dia sadar bahwa hal-hal yang kita anggap tidak material juga bisa menjadi objek ketamakan.
ADVERTISEMENT
3. Iri hati
Gregorius Agung mengartikulasikan hal ini ketika dia menambahkan rasa iri pada daftar kejahatannya. Dia menuliskan bahwa rasa iri itu menimbulkan "kegembiraan atas kemalangan tetangga, dan penderitaan karena kemakmurannya".
4. Murka
Kemarahan bisa menjadi reaksi normal terhadap ketidakadilan, tetapi kemarahan adalah sesuatu yang lebih dari itu.
Dalam Katekismus dipaparkan, “Jika kemarahan mencapai titik keinginan yang disengaja untuk membunuh atau melukai tetangga secara serius, itu sangat bertentangan dengan amal; itu adalah dosa berat."
Seniman abad pertengahan kerap menggambarkan kemurkaan dengan adegan perkelahian orang serta adegan bunuh diri.
5. Nafsu
Nafsu begitu luas, mencakup seks di luar pernikahan heteroseksual serta seks di dalam pernikahan heteroseksual.
Katekismus mendefinisikan nafsu sebagai, “Keinginan yang tidak teratur atau kenikmatan seksual yang berlebihan. Kesenangan seksual secara moral tidak teratur ketika dicari untuk dirinya sendiri, terisolasi dari tujuan prokreasi dan kesatuannya."
ADVERTISEMENT
6. Kerakusan
Para teolog Kristen mula-mula memahami kerakusan termasuk terlalu banyak minum alkohol dan menginginkan terlalu banyak makanan enak, selain makan berlebihan.
7. Kemalasan
Bagi para teolog Kristen awal, kemalasan yang dimaksud adalah kurangnya perhatian untuk melakukan tugas-tugas spiritual.
Meskipun Gregorius Agung tidak memasukkan kemalasan dalam daftar tujuh dosanya, ia menyebutkannya ketika berbicara tentang dosa kesedihan atau melankolis, bahwa kemurungan menyebabkan "kelambanan dalam memenuhi perintah". [*]