Konten dari Pengguna

Sejarah di Balik Dongeng Seruling Tikus

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dongeng disebutkan bahwa peniup seruling menggiring kematian ribuan tikus dan menghilangkan 130 anak manusia.

Sejarah di Balik Dongeng Seruling Tikus
zoom-in-whitePerbesar

Foto: commons.wikimedia.org

Terkenal sebuah dongeng berlatar tahun 1284, tentang Kota Hamelin, Jerman, yang dahulu makmur namun memiliki masalah serius dengan tikus. Hewan ini memakan semua persedian pangan di lumbung jagung, gandum, serta di toko roti dan kue. Kehidupan di Hamelin seketika menjadi mimpi buruk dan walikota yang putus asa menjanjikan hadiah seribu gulden emas kepada siapa saja yang bisa membebaskan Hamelin dari tikus.

Keesokan hari setelah pengumuman, seorang pria misterius dengan pakaian berwarna cerah (laiknya sering dipakai badut) tiba di Hamelin. Dia mengaku dapat memberantas tikus, dan dia berjanji untuk menyingkirkan semua tikus di dalam kota.

Menggunakan seruling, dia mulai memainkan lagu yang membuat ribuan tikus keluar dari rumah, selokan, gudang, toko roti, dan mulai mengikuti sang pria misterius. Lalu, hewan-hewan digiring hingga meloncat ke Sungai Weser, di mana mereka melompat satu per satu ke dalam air dan mati tenggelam.

Sang peniup seruling lantas kembali ke alun-alun kota untuk mengambil hadiah seribu gulden. Warga takjub dengan aksinya, namun walikota malah tertawa dan hanya memberinya lima puluh gulden.

Marah, pria misterius itu kemudian pergi dari Hamelin sambil mengucapkan sumpah balas dendam. Beberapa hari kemudian, ketika orang-orang dewasa berkumpul di gereja saat hari Santo Yohanes dan Paulus, peniup seruling kembali dan mulai memainkan nada yang berbeda.

Kali ini bukan tikus yang dia giring, tetapi anak-anak kecil. Sebanyak seratus tiga puluh anak hilang hari itu; memekik hati para orangtua.

Bila disandingkan dengan fakta-fakta sejarah, terdapat beberapa teori yang menyoal kebenaran peniup seruling penggiring tikus yang menghilangkan 130 anak di Hamelin. Dugaan paling umum menyebutkan anak-anak di balik kisah ini meninggal sebab alami seperti epidemi. Sementara kemungkinan lainnya percaya mereka hilang setelah bergabung dalam Perang Salib pada abad ke-13.

Dalam teori berbeda, sejarawan Jurgen Udolph yakin bahwa yang disebut 'anak-anak' dalam dongeng itu sebetulnya ialah 'para pemuda' pengangguran yang beremigrasi dari Jerman ke Polandia dan wilayah lainnya di Eropa Timur. Banyak tuan tanah sering muncul di Jerman sambil mengenakan pakaian bermotif warna-warni cerah pada abad ke-13 dan menawarkan hadiah untuk siapa saja yang sudi hijrah. Para tuan tanah ini disebut lokator, merekrut calon pemukim guna dipekerjakan di lahan yang relatif masih tak berpenduduk.

Maka, usai diketahui peniup seruling misterius ialah alegori untuk lokator, satu-satunya hal yang tak berkesesuaian dengan dunia nyata dalam dongeng Hamelin hanyalah gerombolan tikus yang digiring mati ke Sungai Weser. Hewan pengerat ini baru muncul sebagai masalah serius pada abad ke-16, ketika negara-negara di Eropa sedang dicengkram oleh wabah.

Sumber: independent.co.uk | academia.edu