Sejarah Ditemukannya Penanak Nasi Otomatis

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penanak nasi otomatis adalah sebuah penemuan Jepang pada abad pertengahan, yang ditujukan sebagai kemudahan bagi para koki-koki kuliner pada waktu itu. Kini, alat penanak nasi sudah menjadi sebuah alat yang lumrah digunakan sebagai kebutuhan dapur masyarakat global. Alih-alih memasak nasi di atas kompor, massa modern sudah banyak beralih ke penanak nasi otomatis, karena proses memasaknya dapat berhenti secara otomat apabila nasi sudah matang.
Namun, untuk menemukan dan membuat penanak nasi otomatis ini tidaklah mudah. Faktanya, butuh puluhan tahun untuk menciptakan alat yang dapat digunakan dengan sempurna.
Selama berabad-abad, sebagian besar juru masak di Jepang membuat nasi dengan kamado, sebuah alat berbentuk kotak dengan panci besi di atasnya. Memasak nasi dengan cara tersebut, membutuhkan pengaturan modulasi panas secara manual, seperti membuat panas ke titik yang tinggi sampai air mendidih, lalu menurunkan panasnya, kemudian menaikkan panasnya kembali.
Penemuan penanak nasi otomatis dimulai pada tahun 1945, ketika seorang insinyur bernama Masaru Ibuka mengeluhkan hidup di Jepang pascaperang. Upah yang mereka kerjakan, sering dibayar dengan beras. Dari situlah, Ibuka menemukan ide untuk membuat sebuah alat yang dapat memasak nasi, ditambah dengan sedikit inovasi. Ibuka berencana akan membuat sebuah bak kayu sederhana yang dilapisi dengan filamen alumunium.
Idenya tersebut secara langsung ditunjang dengan keadaan listrik yang relatif berlimpah saat itu. Ibuka kemudian membeli bak kayu yang diubahnya menjadi penanak nasi, dan menggunakan beras-beras yang Ia dapatkan untuk mengujinya.
Namun, dalam upaya pertamanya, tidak berjalan dengan baik. Nasi tidak dapat menyerap air dengan merata, membuatnya menjadi kering, atau bahkan sangat lembek. Saat itu, Ibuka merasa putus asa, karena idenya tidak dapat direalisasikan.
Kisah kemudian beralih ke Yoshitada Minami. Saat itu, ia sedang mencari pekerjaan dan bertemu dengan Shogo Yamada yang sedang mempromosikan mesin cuci elektrik Toshiba. Minami kemudian mendapatkan sebuah proyek untuk membuat sebuah alat praktis yang dapat digunakan untuk memasak nasi. Dan karena menanak nasi adalah pekerjaan perempuan, maka ia pun menyerahkannya kepada istrinya, Fumiko.
Dalam penelitian dan berbagai uji coba yang telah dilakukan, Fumiko dapat mengambil kesimpulan, bahwa apabila air di dalam panci beras telah terserap sepenuhnya atau menguah, maka suhu di dalam wadah pun akan meningkat dengan cepat. Dan ternyata, kunci rahasianya ada pada sebuah saklar bimetal yang dapat digunakan untuk mematikan penanak nasi, dengan membengkokkannya setelah suhu di dalam panci mencapai 100 derajat celsius.
Purwarupa tersebut terus diuji oleh Fumiko. Ia mencoba memasak nasi di dalam ruangan, di luar ruangan, di bawah sinar matahari, bahkan saat masih pagi yang sangat dingin. Lantas ia mampu menyelesaikan produk akhir yang terdiri dari tiga lapis besi. Penanak nasi otomatis Toshiba pun siap beraksi di pasaran.
Produk tersebut kemudian langsung menarik perhatian para ibu rumah tangga. Hanya dalam setahun, Toshiba mampu menjual 200.000 penanak nasi setiap bulannya. Hal tersebut kemudian menarik perhatian beberapa perusahaan pesaing, seperti Panasonic. Tak mau kalah, perusahaan lain pun ikut untuk membuat penanak nasi otomatis versi mereka sendiri untuk bersaing dengan Toshiba.
